ACEH BARAT — Jembatan gantung yang menjadi satu-satunya akses penghubung antar dua desa di Pante Ceureumen itu akhirnya harus direkonstruksi total. Kepala Bidang Jalan dan Jembatan PUPR Aceh Barat, Beni Hardi, menyatakan kondisi di lapangan jauh lebih parah dari perkiraan awal.
“Rencananya awal kami hanya mau melakukan rehabilitasi berat. Tapi setelah melihat kondisi riil di lapangan, jembatan ini harus dibongkar total,” ujar Beni saat dikonfirmasi, Senin (21/7/2026).
Hasil survei teknis menunjukkan terjangan banjir tahun lalu tidak hanya membuat bentang jembatan miring, tetapi juga merusak abutment dan blok angkur secara fatal. Kedua komponen ini merupakan fondasi utama jembatan gantung dan dinilai sudah tak bisa diperbaiki.
“Untuk bangunan atas seperti kabel dan struktur lantai diupayakan tetap mempergunakan material lama yang masih layak digunakan,” jelas Beni.
Proses pembongkaran dilakukan dengan menurunkan seluruh bentang jembatan yang miring. Material yang masih layak akan dipilah dan dipasang kembali pada konstruksi baru.
Jembatan ini bukan sekadar infrastruktur biasa. Warga Desa Canggai dan Desa Jambak sangat bergantung padanya untuk aktivitas ekonomi sehari-hari. Lebih krusial lagi, jembatan menjadi akses utama anak-anak menuju sekolah.
Selama jembatan rusak, warga terpaksa mengarungi sungai yang sangat berbahaya, terutama saat debit air naik. Kondisi ini berlangsung sejak banjir besar November 2025 lalu.
Saat ini, pihak rekanan CV Melati sudah mulai mengerjakan pembongkaran dan persiapan pembangunan ulang. Beni memastikan proses pengerjaan akan dikebut agar akses warga bisa segera pulih.
“Keberadaan jembatan gantung ini sangat vital. Kami minta rekanan bekerja cepat dan tepat target,” tegasnya.
Hingga berita ini diturunkan, PUPR Aceh Barat belum menyebutkan target waktu pasti penyelesaian pembangunan jembatan baru tersebut.