Lohum India Buru Tambang Nikel RI, Target Produksi Naik 10 Kali

Penulis: Parsaoran Hutapea  •  Rabu, 23 September 2026 | 09:36:32 WIB
Perusahaan mineral kritis asal India, Lohum, membidik akuisisi tambang nikel di Indonesia dan Filipina.

ACEH — Lohum, perusahaan mineral kritis asal India, resmi mengincar akuisisi tambang nikel di Indonesia dan Filipina untuk menopang target lonjakan produksi hingga 10 kali lipat. Langkah ini menjadi bagian strategi India melepas ketergantungan pasokan baterai dari China yang selama ini mendominasi rantai pasok global.

Paragraf pembuka: Ekspansi Lohum menyasar peningkatan kapasitas nikel dari sekitar 1.000 metrik ton per tahun menjadi 10.000 metrik ton per tahun dalam 18 bulan ke depan. Founder sekaligus CEO Lohum, Rajat Verma, mengungkapkan bahwa fasilitas daur ulang di Gujarat, India Barat, menjadi basis produksi saat ini sebelum perusahaan melebarkan sayap ke luar negeri.

Mengapa Indonesia dan Filipina Jadi Sasaran

Indonesia dan Filipina dipilih karena keduanya merupakan pemasok nikel terbesar dunia yang selama ini menjadi tulang punggung industri baterai kendaraan listrik. Lohum menilai kepemilikan tambang langsung akan memangkas risiko pasokan sekaligus menekan biaya bahan baku.

Langkah agresif ini menjadi bagian dari strategi besar India untuk menopang pertumbuhan ekonominya melalui transisi energi hijau. New Delhi ingin melepaskan diri dari ketergantungan rantai pasok global yang saat ini didominasi China.

Skema Pendanaan: Ekuitas Rp 1,68 Triliun dan Opsi Utang

Untuk mendanai rencana ekspansi global tersebut, Lohum tengah bernegosiasi dengan sejumlah investor potensial. Perusahaan menggalang dana sebesar 10 miliar rupee atau sekitar USD105 juta dari ekuitas.

Menambah utang juga menjadi opsi, dengan besaran 20 miliar rupee dalam kurun waktu 12 hingga 18 bulan mendatang. Kombinasi pendanaan itu disiapkan untuk menutup kebutuhan akuisisi tambang sekaligus belanja modal peningkatan kapasitas produksi.

Dampak ke Pasar Nikel dalam Negeri

Masuknya Lohum menambah daftar investor asing yang memburu aset nikel Indonesia, terutama setelah permintaan baterai kendaraan listrik melonjak dalam beberapa tahun terakhir. Bagi pelaku tambang lokal, kehadiran pemain baru berarti peluang kemitraan sekaligus persaingan memperebutkan cadangan nikel kelas baterai.

Pemerintah Indonesia sendiri mendorong hilirisasi nikel agar tidak sekadar mengekspor bijih mentah. Kehadiran investor yang mengolah nikel menjadi bahan baku baterai sejalan dengan arah kebijakan tersebut.

Tantangan di Depan

Rencana Lohum belum menyebut lokasi tambang spesifik yang dibidik di Indonesia maupun Filipina. Proses akuisisi aset tambang biasanya memakan waktu karena menyangkut perizinan, uji tuntas, dan negosiasi dengan pemegang konsesi.

Target 10.000 metrik ton per tahun dalam 18 bulan juga menuntut kesiapan fasilitas pengolahan. Tanpa infrastruktur pendukung, lonjakan kapasitas sepuluh kali lipat dari basis produksi saat ini berisiko molor dari jadwal.

Penutup: Jika terealisasi, langkah Lohum memperkuat posisi Indonesia sebagai pemain sentral rantai pasok baterai kendaraan listrik global. Namun dominasi China di sektor ini belum tergoyahkan dalam waktu dekat, sehingga ekspansi Lohum baru menjadi satu dari sekian banyak upaya diversifikasi pasokan.

Reporter: Parsaoran Hutapea
Sumber: ekbis.sindonews.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top