ACEH — Sony mematenkan teknologi AI yang mampu menyesuaikan input controller secara otomatis bagi pemain dengan keterbatasan fisik. Paten berjudul AI-Assisted User Input for Accessibility itu dipublikasikan 17 September 2026 dan diajukan di Amerika Serikat sejak Maret 2025, dengan status masih pending. Konsep ini menyasar persoalan aksesibilitas yang selama ini jarang tersentuh di industri gim konsol.
Bagi sebagian pemain, hambatan utama bermain gim bukan soal skill, melainkan kemampuan fisik untuk menekan tombol atau menggerakkan analog secara penuh. Sony mencoba menjawab persoalan itu lewat pendekatan berbasis kecerdasan buatan yang tertuang dalam dokumen paten terbaru mereka.
Platform gim akan menerima data dari controller, mencakup tombol atau analog yang dipakai, seberapa jauh kontrol digerakkan, hingga durasi dan waktunya. Data itu kemudian dipadukan AI dengan informasi soal keterbatasan fisik pemain untuk menghasilkan output kontrol yang diteruskan ke gim.
Ilustrasi dalam dokumen menyebut kasus cedera tangan kiri yang membuat input sisi kiri hanya tersampaikan di bawah 50 persen. Angka tersebut murni contoh dalam paten, bukan ambang batas resmi penggunaan sistem.
Jika pemain hanya sanggup menggerakkan analog atau menekan tombol sampai tingkat tertentu, sistem dapat memperkuat sinyal digital itu agar aksinya mendekati input penuh. Sebaliknya, input yang berlebihan bisa diredam. Dalam kondisi ekstrem, sistem bahkan dapat memproduksi input ketika kendali fisik sama sekali tidak bergerak.
AI yang diusulkan tidak hanya membaca sinyal controller. Sistem disebut dapat mempertimbangkan konteks permainan dan data gameplay untuk memperkirakan aksi yang tepat, lalu menyusun output dari kombinasi informasi tersebut.
Dokumen paten turut menjelaskan kemungkinan AI menampilkan prediksi atau input yang telah disesuaikan sebagai overlay di layar selama permainan berlangsung. Fitur ini memberi pemain gambaran visual atas apa yang sedang dilakukan sistem.
Sony mempertimbangkan bagaimana sistem bekerja saat pemain masuk ke sesi multiplayer. Dokumen menyebut accessibility agent berbasis AI dapat dinonaktifkan otomatis ketika bermain multiplayer, atau dimatikan berdasarkan keputusan pemain itu sendiri.
Sistem juga dirancang memberi indikator visual maupun audio ketika bantuan AI sedang aktif. Tujuannya agar pemain lain atau pemain yang bersangkutan tahu kapan asistensi berjalan.
Penerapan teknologi ini disebut cukup fleksibel. Model AI dapat ditempatkan di console, server cloud, atau bahkan di dalam controller. Sistem menangani dua jenis kendali: soft controls yang memodifikasi input lewat perangkat lunak, dan hard controls yang menyentuh perubahan konfigurasi fisik controller, misalnya menyesuaikan jarak gerak sebuah tombol.
Semua ini masih berupa paten, bukan fitur PlayStation yang siap dipakai. Sony belum mengumumkan produk, jadwal rilis, daftar gim yang kompatibel, maupun perangkat tertentu yang akan memakai teknologi tersebut.
Dokumen ini lebih tepat dibaca sebagai gambaran arah riset dan desain yang sedang dipertimbangkan Sony untuk aksesibilitas gim. Bukan indikasi bahwa pemain PS5 akan segera mendapat fitur AI tersebut.