Kimia Farma Terpilih Garap Antivirus Influenza, Satu-satunya dari Indonesia

Penulis: Parsaoran Hutapea  •  Kamis, 01 Oktober 2026 | 12:06:31 WIB
Kimia Farma terpilih sebagai satu-satunya perusahaan farmasi Indonesia penerima sublisensi produksi baloxavir marboxil dari MPP.

ACEH — PT Kimia Farma (Persero) Tbk. terpilih sebagai satu-satunya perusahaan farmasi Indonesia yang menerima sublisensi dari Medicines Patent Pool (MPP) untuk memproduksi versi generik baloxavir marboxil, obat antivirus influenza. SubLisensi ini bagian dari perjanjian lisensi sukarela antara MPP dan Roche, dan menempatkan Kimia Farma di antara 11 manufaktur dari 9 negara. Bagi Bio Farma Group, capaian ini memperkuat posisi Indonesia dalam rantai pasok obat strategis global.

Paragraf pembuka: SubLisensi yang diperoleh Kimia Farma bukan sekadar pengakuan atas kapabilitas teknis perusahaan. Ini menjadi pintu masuk bagi Indonesia untuk terlibat lebih dalam dalam produksi obat antivirus yang selama ini bergantung pada pasokan luar negeri. Proses seleksi dilakukan MPP dengan menilai kapabilitas teknis dan regulatori setiap kandidat, serta komitmen mereka untuk memproduksi baloxavir dengan mutu terjamin.

Siapa Saja yang Terpilih

Kimia Farma bersaing dengan sejumlah perusahaan farmasi dari berbagai negara. Selain Indonesia, manufaktur yang menerima sublisensi berasal dari Brasil, Tiongkok, India, Malaysia, Nigeria, Uganda, Ukraina, dan Vietnam. Total ada 11 manufaktur dari 9 negara yang lolos seleksi.

Keikutsertaan Kimia Farma dalam program ini merupakan bagian dari upaya global membangun kapasitas produksi obat yang lebih terdiversifikasi secara geografis. Tujuannya, memperkuat rantai pasok dan kesiapsiagaan menghadapi potensi wabah atau pandemi di masa mendatang.

Apa yang Didapat Kimia Farma

Melalui kerja sama tersebut, Kimia Farma memperoleh akses terhadap technical data package, produk referensi untuk studi bioekuivalensi, serta dukungan teknis lain. Fasilitas ini ditujukan untuk mendukung pengembangan produk dan proses memperoleh persetujuan regulatori.

Dukungan tersebut menjadi kesempatan memperkuat kapabilitas pengembangan produk farmasi strategis di dalam negeri. Pengembangan baloxavir marboxil secara lokal diharapkan membantu diversifikasi rantai pasok obat strategis, meningkatkan kapasitas produksi dalam negeri, serta secara bertahap mengurangi ketergantungan pada pasokan luar negeri.

Kata Direksi Bio Farma Group

Direktur Utama PT Bio Farma (Persero), Shadiq Akasya, menyebut capaian ini sebagai momentum penting bagi industri farmasi nasional. Menurutnya, kepercayaan yang diperoleh Kimia Farma menunjukkan semakin kuatnya kapabilitas industri farmasi Indonesia untuk berpartisipasi dalam kolaborasi kesehatan global.

"Kepercayaan yang diperoleh Kimia Farma melalui sublisensi baloxavir marboxil dari Medicines Patent Pool dalam kerangka voluntary licensing MPP dan Roche merupakan pencapaian strategis bagi Bio Farma Group. Hal ini menunjukkan semakin kuatnya kapabilitas industri farmasi nasional untuk berpartisipasi dalam kolaborasi kesehatan global sekaligus memperkuat kesiapan Indonesia dalam menghadapi berbagai tantangan kesehatan di masa mendatang," ujar Shadiq.

Shadiq menambahkan, penguatan ketahanan kesehatan tidak hanya membutuhkan ketersediaan produk, tetapi juga kemampuan industri nasional mengembangkan teknologi, memperkuat manufaktur, memenuhi persyaratan mutu dan regulasi, serta membangun rantai pasok yang tangguh.

"Sebagai holding BUMN Farmasi dan bagian dari ekosistem Danantara Indonesia, kami ingin memastikan setiap penguatan kapabilitas perusahaan memberikan manfaat yang lebih luas. Pengembangan kemampuan industri kesehatan nasional harus bermuara pada peningkatan kualitas hidup masyarakat melalui akses terhadap solusi kesehatan yang semakin baik, memperkuat kinerja dan daya saing industri strategis nasional, serta membangun ketahanan kesehatan yang berkelanjutan bagi generasi mendatang," tambahnya.

Langkah Kimia Farma ke Depan

Direktur Komersial PT Kimia Farma (Persero) Tbk., Hanadi Setiarto, menyatakan keterlibatan perusahaan dalam inisiatif global ini bagian dari komitmen mengembangkan kapabilitas dan meningkatkan daya saing industri farmasi nasional.

"Keterlibatan Kimia Farma dalam perjanjian sublisensi ini merupakan langkah strategis untuk memperkuat kapabilitas industri farmasi nasional sekaligus mendukung kesiapsiagaan Indonesia dalam menghadapi berbagai kondisi kesehatan di masa mendatang. Melalui kolaborasi dengan mitra global, kami memperoleh kesempatan untuk memperkuat kemampuan di bidang pengembangan, regulasi, dan manufaktur, serta memberikan kontribusi terhadap ketahanan kesehatan nasional," ujar Hanadi.

Bagi Bio Farma Group, peluang ini memperkuat posisi industri farmasi Indonesia tidak hanya untuk memenuhi kebutuhan domestik, tetapi juga memperluas kontribusi dalam ekosistem kesehatan global. Langkah selanjutnya adalah memastikan transfer teknologi dan kapabilitas manufaktur berjalan sesuai target, sehingga produksi lokal baloxavir marboxil bisa segera direalisasikan.

Penutup: Keterlibatan Kimia Farma dalam jaringan manufaktur global ini menandai pergeseran peran Indonesia dari sekadar pasar menjadi produsen obat strategis. Jika berjalan lancar, kapasitas ini bisa menjadi fondasi bagi kemandirian farmasi nasional di masa depan.

Reporter: Parsaoran Hutapea
Sumber: tugubandung.id This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top