ACEH — Ekonom Universitas Paramadina Wijayanto Samirin menilai rumor pengambilalihan bank sistemik berpotensi mengguncang stabilitas sistem keuangan nasional. Gangguan pada bank berperan besar bisa menular ke lembaga keuangan lain dan memicu efek domino. Isu pengambilalihan bank besar kembali mencuat di tengah pasar.
Wijayanto menjelaskan bahwa bank sistemik punya karakteristik berbeda dibandingkan bank pada umumnya. Skala usaha, keterkaitan antarbank, dan peran dalam sistem pembayaran membuat dampak gangguan pada bank jenis ini jauh lebih luas.
"Jika terjadi sesuatu terhadap bank tersebut, ekonomi dan sistem perbankan akan terdampak," kata Wijayanto dalam keterangannya, Selasa (6/10/2026).
Bank sistemik memegang porsi besar dalam penghimpunan dana masyarakat dan penyaluran kredit. Ketika persoalan muncul di satu bank sistemik, kepercayaan nasabah dan pelaku pasar bisa menular ke bank lain dalam waktu singkat.
Kondisi itu membuat otoritas pengawas menempatkan bank sistemik dalam kategori perhatian khusus. Peraturan Bank Indonesia dan OJK menetapkan persyaratan modal, likuiditas, dan tata kelola yang lebih ketat bagi bank dengan aset besar dan keterkaitan tinggi terhadap sistem keuangan.
Wijayanto menilai rumor pengambilalihan justru berisiko memperbesar ketidakpastian. Pasar bisa bereaksi lebih cepat dari informasi resmi yang tersedia, terutama jika menyangkut bank yang sahamnya diperdagangkan di bursa.
Isu pengambilalihan bank besar kembali muncul di ruang publik. Informasi yang belum terverifikasi berpotensi memicu spekulasi di kalangan investor, termasuk pada saham perbankan yang punya bobot besar di Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG).
Sejumlah bank besar Indonesia tercatat sebagai bank sistemik berdasarkan penilaian otoritas. Kapitalisasi pasar mereka signifikan, sehingga pergerakan harga sahamnya langsung mempengaruhi arah IHSG dan sentimen investor asing.
Wijayanto menyoroti pentingnya kejelasan informasi dari otoritas dan manajemen bank. Menurutnya, ketidakjelasan soal status kepemilikan atau aksi korporasi bisa mendorong aksi jual yang tidak berdasar fundamental.
Bagi investor, rumor pengambilalihan menuntut kehati-hatian. Keputusan investasi sebaiknya berpijak pada laporan keuangan resmi, keterbukaan informasi di BEI, dan pernyataan otoritas, bukan informasi yang belum terverifikasi.
Rasio kecukupan modal, kualitas kredit, dan likuiditas menjadi indikator utama untuk menilai ketahanan bank di tengah guncangan sentimen. Bank dengan fundamental kuat umumnya lebih tahan terhadap tekanan jangka pendek dari rumor pasar.
Wijayanto menegaskan bahwa gangguan pada bank sistemik tidak hanya berdampak pada pemegang saham. Nasabah, pelaku usaha yang bergantung pada kredit, dan pelaku pasar keuangan ikut merasakan imbasnya jika persoalan tidak ditangani cepat dan transparan.