Pupuk Indonesia Uji Teknologi CCU di Gresik, Siap Masuk Skala Komersial

Penulis: Alfian Batubara  •  Sabtu, 17 Oktober 2026 | 14:37:31 WIB
Petrokimia Gresik meninjau perkembangan proyek percontohan teknologi Carbon Capture and Utilization (CCU) sebagai bagian dari upaya dekarbonisasi industri.

ACEH — PT Pupuk Indonesia menyatakan komitmen mengembangkan teknologi dekarbonisasi Carbon Capture and Utilization (CCU) setelah proyek percontohan di Petrokimia Gresik menunjukkan hasil proof of concept. Pengembangan ke skala komersial akan mempertimbangkan evaluasi teknologi dan kelayakan ekonomi. Langkah ini menjadi bagian dari transformasi industri pupuk menuju operasi yang lebih berkelanjutan.

Direktur Utama Pupuk Indonesia Rahmad Pribadi menyampaikan apresiasi kepada Kementerian Perindustrian yang telah memberi dukungan dan arahan dalam pengembangan teknologi penangkapan dan pemanfaatan karbon tersebut. Menurut dia, arahan kementerian menjadi dasar bagi perusahaan untuk melanjutkan program dekarbonisasi di lingkungan holding pupuk pelat merah.

Proyek percontohan CCU di Petrokimia Gresik disebut telah membuktikan konsep teknologi tersebut berjalan. Pembuktian itu membuka peluang bagi Pupuk Indonesia untuk mengembangkan penerapannya ke skala yang lebih besar, tidak lagi sekadar uji coba.

Dari Uji Coba Menuju Skala Komersial

Rahmad menegaskan, keputusan melangkah ke skala komersial tidak akan diambil tergesa-gesa. Perusahaan akan menimbang hasil evaluasi teknologi sekaligus kelayakan ekonomi agar penerapannya benar-benar memberi manfaat bagi industri.

Artinya, teknologi CCU tidak hanya dinilai dari sisi pengurangan emisi, tetapi juga dari sisi biaya dan nilai tambah yang dihasilkan. Karbon sisa proses industri dapat diolah menjadi produk bernilai ekonomi, bukan sekadar dibuang.

Proyek ini merupakan kolaborasi antara Kementerian Perindustrian, Pupuk Indonesia, Petrokimia Gresik, dan UWin Resources Regeneration Inc. Kolaborasi tersebut dirancang untuk mengurangi emisi sekaligus membuka peluang peningkatan nilai ekonomi dari pemanfaatan karbon.

Petrokimia Gresik Berpotensi Jadi Pionir

Menteri Perindustrian Muhammad Sarmuji menyebut Petrokimia Gresik berpotensi mencetak sejarah sebagai pionir penerapan teknologi CCU di Indonesia. Penilaian itu disampaikan saat ia meninjau perkembangan proyek percontohan di Gresik, Jawa Timur, Jumat (16/10).

"Proyek percontohan CCU di Petrokimia Gresik merupakan langkah penting dalam pengembangan industri hijau nasional," kata Sarmuji dalam keterangan tersebut.

Menurutnya, pengembangan teknologi ini diharapkan membuka peluang penerapan yang lebih luas pada sektor industri lainnya. Pemerintah berniat menyebarluaskan model proyek percontohan ini karena dinilai menghasilkan manfaat besar.

"Ini akan menjadi sejarah bagi Petrokimia Gresik sebagai industri yang menjadi pionir bagi penerapan Carbon Capture and Utilization. Ini akan kita sebar luaskan karena proyek percontohan ini menghasilkan manfaat yang besar," ujar Sarmuji.

Jejak Dekarbonisasi Petrokimia Gresik

Direktur Utama Petrokimia Gresik Daconi Khotob menyatakan keterlibatan perusahaan dalam proyek percontohan CCU sejalan dengan upaya keberlanjutan yang selama ini dijalankan. Menurut dia, industri ramah lingkungan perlu didukung lewat inovasi dan peningkatan efisiensi secara berkelanjutan.

"Petrokimia Gresik berkomitmen menerapkan prinsip keberlanjutan dalam operasional perusahaan melalui efisiensi, inovasi, dan pengelolaan lingkungan," kata Daconi.

Komitmen itu tertuang dalam roadmap dekarbonisasi perusahaan untuk mendukung target Enhanced Nationally Determined Contribution (ENDC) 2030 dan Net Zero Emission (NZE) 2060. Hingga 2025, Petrokimia Gresik mencatat pengurangan emisi gas rumah kaca hampir 400 ribu ton setara CO? melalui berbagai program dekarbonisasi.

"Kami berharap kolaborasi ini turut mendorong industri nasional yang lebih ramah lingkungan dan berdaya saing," ujar Daconi.

Bagi Pupuk Indonesia, pengembangan CCU menjadi ujian nyata antara target iklim dan tekanan biaya produksi. Jika skala komersial terbukti layak secara ekonomi, teknologi ini bisa menjadi cetak biru bagi industri pupuk nasional yang selama ini dikenal intensif energi.

Reporter: Alfian Batubara
Sumber: voi.id This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top