BANDA ACEH — PT Bank Perekonomian Rakyat Syariah Mustaqim Aceh menutup kuartal III 2026 dengan skala usaha yang lebih besar. Saldo pembiayaan per 30 September 2026 tercatat Rp191,8 miliar, naik 14 persen dibanding periode sama tahun lalu.
Angka itu setara sekitar 73,5 persen dari total aset. Porsi besar tersebut menjadikan kualitas pembiayaan sebagai penentu utama keberlanjutan bisnis bank milik Pemerintah Aceh ini.
Di antara empat indikator kinerja yang disampaikan perseroan, penghimpunan dana pihak ketiga mencatat pertumbuhan tertinggi. Nilainya mencapai Rp140 miliar, naik 21 persen secara tahunan.
Laba bank ikut naik meski lajunya lebih rendah. Hingga akhir September 2026, Bank Mustaqim membukukan laba Rp3,2 miliar atau tumbuh 9 persen dibanding periode yang sama tahun sebelumnya.
Rasio pembiayaan bermasalah atau non-performing financing tercatat 4 persen. Angka itu disebut membaik dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
Pemerintah Aceh selaku pemegang saham pengendali menyambut capaian tersebut. Pj Sekda Aceh Taufik menilai pertumbuhan aset, pembiayaan, dan dana masyarakat sebagai hasil pengelolaan bank yang profesional dan akuntabel.
"Kami ingin pertumbuhan ini semakin terasa manfaatnya bagi masyarakat. Bank Mustaqim diharapkan terus memperluas pembiayaan produktif, terutama untuk membantu usaha mikro dan kecil memperoleh modal, meningkatkan kapasitas usaha, serta membuka peluang ekonomi di daerah," ujar Taufik, 22 Oktober 2026.
Taufik juga menekankan ekspansi usaha harus berjalan bersama prinsip kehati-hatian. Kepercayaan masyarakat perlu dijaga lewat pelayanan yang baik, kepatuhan pada prinsip syariah, dan pengawasan pembiayaan yang konsisten.
Direktur Utama Bank Mustaqim Raisul Mukhlis pernah menyampaikan fokus serupa dalam pemberitaan Dialeksis pada 24 Mei 2026. Saat itu ia menyebut sekitar 87 persen dari total pembiayaan bank merupakan pembiayaan modal kerja kepada sektor UMKM.
Bagi pelaku usaha kecil, kedekatan layanan perbankan membantu memenuhi kebutuhan modal kerja. Pembiayaan dipakai untuk menambah persediaan barang, membeli bahan baku, atau membiayai kegiatan produksi.
Jaringan kantor menjadi modal jangkauan layanan. Bank yang dipimpin Raisul itu didukung 15 kantor cabang dan tujuh kantor kas di Aceh.
Peran BPR dan BPRS dalam pembiayaan usaha kecil menjadi perhatian Otoritas Jasa Keuangan. Dalam siaran pers 2 Juni 2026, OJK menyebut BPR dan BPRS memiliki kedekatan geografis dan kultural dengan pelaku usaha mikro dan kecil.
Secara nasional, porsi pembiayaan UMKM mencapai 50,07 persen dari total kredit dan pembiayaan industri BPR dan BPRS pada Maret 2026. Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan OJK Dian Ediana Rae menyoroti persaingan yang semakin ketat di segmen mikro dan kecil, disertai potensi kenaikan risiko pembiayaan.
OJK menekankan penguatan tata kelola, pemantauan pembiayaan, dan pencadangan kerugian sebagai bagian dari mitigasi risiko. Bagi Bank Mustaqim, menjaga kualitas portofolio tetap menjadi pekerjaan rumah seiring ekspansi yang berjalan.