Wartawan Simeulue Minta PWI Aceh Punya Mess di Banda Aceh, Ini Alasan di Baliknya

Penulis: Parsaoran Hutapea  •  Kamis, 22 Oktober 2026 | 12:01:01 WIB
Wartawan Simeulue menyampaikan usulan penyediaan mess di Kantor PWI Aceh saat menerima kunjungan pengurus provinsi di Pelabuhan Penyeberangan Sinabang.

SINABANG — Permintaan itu disampaikan Firnalis saat menerima kunjungan Nasir Nurdin di Pelabuhan Penyeberangan Sinabang. Nasir tiba setelah lebih dari 12 jam berlayar dari Pelabuhan Calang, Aceh Jaya, dan disambut jajaran pengurus PWI Simeulue bersama belasan anggota.

Firnalis menyebut Simeulue sebagai pulau berjuluk hati emas. Di balik keramahan itu, wartawan kepulauan menyimpan persoalan yang ingin disampaikan langsung ke pengurus provinsi.

Mengapa Mess di Kantor PWI Aceh Dianggap Penting

Bagi wartawan di kota, menghadiri kegiatan di kantor provinsi cukup dengan mengatur waktu. Bagi anggota yang tinggal di pulau, urusan organisasi di Banda Aceh berarti perjalanan laut berjam-jam, waktu tersita, dan biaya tambahan.

Fasilitas kamar singgah diharapkan dipakai anggota dari kabupaten dan kota saat mengurus kepentingan organisasi maupun mengikuti kegiatan lain. Dengan begitu, mereka tidak selalu harus mengeluarkan biaya penginapan.

“Jika rumah besar kita (Kantor PWI) bisa dilengkapi dengan fasilitas itu, tentu akan sangat membantu dari segi pengeluaran wartawan yang sangat pas-pasan,” ujar Firnalis.

Bendahara PWI Simeulue Al-Ashab turut menyetujui usulan tersebut. Penyediaan mess membutuhkan perencanaan, anggaran, dan pengelolaan, tetapi kebutuhannya bersifat praktis dan langsung mengurangi beban anggota.

Kepercayaan Mitra Kerja Dinilai Pulih

Dalam pertemuan sambil menikmati kopi di sebuah warung di Sinabang, seorang pengurus PWI Simeulue menilai pulihnya kepercayaan mitra kerja dan kalangan internal sebagai capaian penting kepemimpinan Nasir selama hampir lima tahun terakhir.

Kepercayaan itu ikut menghidupkan kembali denyut organisasi dan mendorong bertambahnya minat pekerja pers menjadi anggota PWI. Namun, membangun kepercayaan berbeda dengan memastikan setiap anggota merasakan manfaatnya.

Firnalis berharap PWI Aceh memperkuat peran sebagai penghubung antara wartawan, pemerintah daerah, dan mitra kerja. Kolaborasi dengan Pemkab Simeulue, katanya, perlu dibangun secara teratur, bukan hanya ketika ada agenda tertentu.

“Peran Pengurus PWI Aceh untuk menjembatani penguatan kolaborasi organisasi dengan Pemkab Simeulue dan mitra kerja lainnya sangat kami harapkan,” ujar Firnalis.

Kekompakan Pengurus Jadi Kunci Program Berjalan

Firnalis mengakui mengelola organisasi sebesar PWI bukan pekerjaan mudah. Kekompakan pengurus menjadi salah satu faktor penting agar program dapat dijalankan.

Ia menilai kepengurusan Nasir telah melakukan perubahan di sejumlah bidang, antara lain organisasi dan keanggotaan, hubungan antarlembaga, pembelaan wartawan, pendidikan, serta kesejahteraan. Capaian itu diharapkan diteruskan melalui koordinasi lebih kuat antara pengurus provinsi dan kabupaten/kota.

Nasir menerima berbagai masukan tersebut sebagai bahan evaluasi sekaligus pijakan untuk periode berikutnya jika kembali memperoleh kepercayaan anggota.

“Apa yang telah kami lakukan pada periode pertama ini diharapkan menjadi fondasi untuk keberlanjutan. Kita sudah punya arah yang jelas, tidak lagi meraba-raba,” kata Nasir.

Kunjungan dua hari di Bumi Ate Fulawan berlangsung saat Nasir bersiap menghadapi Konferensi Provinsi XIII PWI Aceh pada 20–22 November 2026. Ia merupakan kandidat Ketua PWI Aceh untuk periode 2026–2031.

Reporter: Parsaoran Hutapea
Sumber: penapost.co.id This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top