BANDA ACEH — Antrean panjang kendaraan kembali terlihat di sejumlah Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) di Aceh, salah satunya di kawasan Kampung Mulia, Sabtu (16/5/2026). Truk angkutan barang, mobil penumpang umum, hingga kendaraan pribadi terlihat mengular, berburu solar yang kian sulit didapat.
Kondisi ini langsung dirasakan oleh para sopir lintas kabupaten. Riski, sopir angkutan umum yang melayani trayek pesisir utara dan timur Aceh, mengaku stok solar di sejumlah daerah yang ia lalui terus menipis.
"Sekarang sangat susah cari solar. Kalau ada pun antreannya panjang dan sering cepat habis," ujarnya saat ditemui di Banda Aceh.
Riski menceritakan pengalamannya beberapa hari lalu saat harus mengantre hingga dua jam di salah satu SPBU di Bireuen yang berada di samping kantor bupati. Sepanjang perjalanan dari Banda Aceh menuju Bireuen, ia mengaku semua SPBU yang disinggahi kehabisan solar.
"Beberapa hari lalu saya antre sampai dua jam di SPBU Bireuen dekat kantor bupati. Sepanjang perjalanan dari Banda Aceh ke Bireuen waktu itu solar kosong," katanya.
Menurut Riski, keresahan di kalangan sopir kian memuncak karena biaya operasional terus membengkak. Ia menduga adanya pengurangan pasokan solar ke SPBU dibanding sebelumnya.
"Ada isu dulu setiap SPBU dapat sekitar 16 ribu liter solar per hari, sekarang katanya tinggal sekitar 8 ribu liter per hari. Kami tidak tahu pasti, tapi kondisi di lapangan memang terasa stok makin sedikit," tuturnya.
Kelangkaan solar subsidi membuat sebagian sopir tak punya banyak pilihan. Namun, beralih ke BBM nonsubsidi juga bukan perkara mudah. Riski menyebut harga Pertamax Turbo sudah mencapai Rp19.400 per liter, sementara Dexlite dan Pertamina Dex melonjak hingga kisaran Rp23.900 sampai Rp27.900 per liter.
"Kalau harus pakai Dex atau Pertamax Turbo tentu berat bagi kami. Penghasilan sopir tidak seberapa, sementara biaya jalan terus naik," keluhnya.
Antrean panjang di SPBU tak hanya menyita waktu, tetapi juga memicu kemacetan di sejumlah titik. Beberapa sopir terpaksa mematikan mesin kendaraan sambil menunggu giliran demi menghemat sisa bahan bakar yang ada.
Para sopir berharap pemerintah dan PT Pertamina (Persero) segera mencari solusi atas kelangkaan ini. Mereka khawatir aktivitas sehari-hari sebagai tulang punggung ekonomi keluarga akan semakin terhambat.
"Kami berharap ada solusi. Jangan sampai sopir semakin susah bekerja hanya karena sulit mendapatkan solar," pungkas Riski. [nh]