ACEH — Samsung Heavy Industries resmi menggandeng perusahaan pelayaran asal Yunani, Capital Clean Energy Carriers, dan lembaga klasifikasi Lloyd's Register dalam proyek pusat data terapung berkapasitas 50 MW. Kesepakatan tiga pihak ini ditandatangani di ajang pameran pelayaran Posidonia di Athena, awal Juni lalu.
Masalah utama proyek pusat data konvensional di darat adalah antrean sambungan listrik yang panjang, terutama di Amerika Serikat dan Eropa. Dengan desain terapung, pusat data bisa menggunakan sel bahan bakar solid oxide yang berjalan di atas LNG untuk menghasilkan listrik sendiri saat bersandar di pelabuhan atau perairan pesisir. Alternatifnya, sistem juga bisa menarik daya dari kabel bawah laut jika tersedia.
Pendekatan ini, menurut Jerry Kalogiratos, CEO Capital Clean Energy Carriers, menawarkan "a scalable and flexible solution, with the unique advantage of mobility." Artinya, unit bisa dipindahkan jika lokasi awal bermasalah, baik karena regulasi maupun tekanan warga sekitar.
Nota kesepahaman yang diteken membagi peran secara jelas: Samsung Heavy bertanggung jawab atas teknologi dan konstruksi, Capital Clean Energy Carriers mengurus pengadaan proyek dan investasi, sementara Lloyd's Register menangani regulasi dan sertifikasi. Samsung Heavy juga menandatangani nota kedua dengan Lloyd's Register Advisory untuk studi kelayakan dan penilaian pasar Amerika Utara.
Model bisnisnya mirip dengan penyewaan kapal tanker. Perusahaan pelayaran membeli platform pusat data terapung, lalu menyewakan kapasitasnya ke operator dengan kontrak jangka panjang. Samsung Heavy sendiri sudah mendapatkan persetujuan prinsip (approval in principle) dari American Bureau of Shipping dan Lloyd's Register pada April lalu.
Salah satu kekhawatiran terbesar adalah apakah perangkat keras AI yang presisi bisa bertahan di lingkungan laut. Getaran, kemiringan, kadar garam, dan kelembaban tinggi jadi ancaman nyata. Untuk mengujinya, Samsung Heavy meneken perjanjian pengembangan bersama dengan Supermicro—perusahaan server asal AS—guna memverifikasi keandalan server AI di atas air.
Samsung Heavy akan mengembangkan sistem kontrol posisi lepas pantai serta teknologi penyekat kadar garam dan kelembaban. Supermicro bertugas memvalidasi kondisi operasional server di lingkungan sungai dan laut. Pengalaman Samsung Heavy membangun fasilitas produksi LNG terapung jadi modal utama untuk mengintegrasikan sistem kelistrikan, pendinginan, jaringan, dan keselamatan dalam satu lambung kapal.
Proyek ini bukan satu-satunya di kelasnya. Perusahaan pelayaran Jepang, MOL, juga tengah membangun pusat data terapung 73 MW bersama Karpowership yang ditargetkan beroperasi pada 2027. China baru saja mengoperasikan penuh fasilitas bawah laut 24 MW di lepas pantai Shanghai pada bulan lalu. Sementara Nautilus Data Technologies mengoperasikan tongkang 6,5 MW yang jauh lebih kecil di Port of Stockton, California.
Samsung Heavy sebenarnya punya calon penyewa potensial. Pada Oktober lalu, perusahaan meneken surat niat dengan OpenAI—pengembang ChatGPT—yang mencakup pengembangan bersama pusat data terapung. Namun hingga saat ini, belum ada kontrak pelanggan yang ditandatangani untuk proyek spesifik.
Pusat data terapung memang terdengar futuristik, tapi tantangan teknis dan komersialnya masih panjang. Jika berhasil, model ini bisa jadi solusi bagi negara kepulauan seperti Indonesia yang punya ribuan kilometer garis pantai dan kerap kesulitan dengan infrastruktur listrik darat.