KOTA LANGSA — Perjalanan darat dari Langsa ke Sei Bingai, Langkat, yang memakan waktu beberapa jam, tak menyurutkan semangat siswa SD 2 Muhammadiyah Langsa. Mereka datang untuk menyaksikan langsung Masjid Jaya Ar-Rahman, bangunan yang telah berusia 251 tahun dan masih berdiri kokoh dengan arsitektur khas Melayu.
Koordinator Kelas 3, Agustina Fadhillah, S.Pd., Gr., mengatakan kunjungan ini sengaja dirancang agar siswa tidak hanya belajar dari buku, tetapi juga melihat langsung peninggalan sejarah Islam. “Alhamdulillah, kami menyampaikan rasa syukur atas terlaksananya kegiatan yang sarat nilai edukasi ini,” ujarnya.
Masjid Jaya Ar-Rahman memiliki keunikan yang jarang ditemukan pada masjid modern. Struktur bangunannya menyerupai rumah panggung, dan sebagian konstruksi dindingnya dibangun tanpa menggunakan paku. Metode tradisional ini justru membuat masjid tetap kokoh meski sudah melewati tiga abad.
Para siswa tidak hanya mendengarkan penjelasan sejarah dari pemandu, tetapi juga mengamati detail arsitektur kayu dan melaksanakan shalat berjamaah di dalam masjid. Suasana religius dan historis itu menjadi pengalaman langsung yang sulit didapatkan di ruang kelas.
Kepala SD 2 Muhammadiyah Langsa, Dr. Hamdani, M.A., menilai perjalanan panjang yang ditempuh siswa sebanding dengan ilmu yang diperoleh. “Tentu perjalanan jauh yang kami tempuh ini terbayar dengan kesempatan melihat secara langsung masjid yang masih berdiri kokoh meskipun usianya telah mencapai hampir tiga abad,” ujarnya.
Melalui semangat Tahun Baru Islam, pihak sekolah berharap siswa semakin mencintai sejarah dan peradaban Islam. Agustina menambahkan, “Harapan kami, siswa dapat lebih mengenal sejarah dan budaya Islam serta memahami bagaimana Islam masuk dan berkembang di Indonesia.”
SD 2 Muhammadiyah Langsa sengaja memilih Masjid Jaya Ar-Rahman karena lokasinya di Sei Bingai masuk dalam kawasan sejarah Kesultanan Langkat. Masjid ini menjadi saksi bisu penyebaran Islam di pesisir timur Sumatera yang memiliki jaringan dakwah erat dengan Aceh dan Semenanjung Malaya. Bagi siswa Aceh, memahami jejak dakwah di Langkat berarti memahami satu kesatuan sejarah Islam di Selat Malaka.
Kegiatan seperti ini juga menjadi alternatif pembelajaran di luar kelas yang relevan dengan kurikulum merdeka. Selain menambah wawasan, siswa diajak merefleksikan nilai-nilai perjuangan ulama dan pendahulu dalam menyebarkan Islam di Nusantara.
Masjid Jaya Ar-Rahman yang berdiri tahun 1775 Masehi termasuk salah satu masjid tertua di Indonesia. Keunikannya terletak pada struktur bangunan rumah panggung yang sebagian konstruksinya tidak menggunakan paku besi. Metode sambung kayu tradisional ini membuat masjid tetap kokoh meski berusia 251 tahun.
Masjid ini juga menjadi cagar budaya yang dilindungi karena nilai sejarahnya sebagai pusat dakwah Islam di kawasan Kesultanan Langkat. Bentuk arsitekturnya mencerminkan akulturasi budaya Melayu dan nilai-nilai Islam yang berkembang pada abad ke-18.