ACEH BESAR — Anak-anak tidak sekadar membaca buku lalu melupakannya. Di Gampong Kayee Adang, mahasiswa KKN USK merancang metode berbeda: setiap cerita yang dibaca harus diwujudkan dalam proyek nyata.
Empat mahasiswa dari Fakultas MIPA USK — tergabung dalam KKN Tematik Literasi Kelompok 7 — memandu belasan anak dari pukul 15.00 hingga 18.00 WIB. Mereka membawa dua buku anak: Saring-Saring dan Tempel Saja. Dari situlah lahir dua proyek praktik.
Proyek pertama menyulap botol plastik bekas menjadi alat penjernih air. Bahan-bahannya sederhana: kapas, batu kerikil, serabut kelapa, pasir, dan air kotor. Anak-anak diajak merangkai lapisan demi lapisan sesuai urutan yang mereka baca di buku.
"Mereka belajar bahwa air keruh bisa jadi jernih tanpa mesin mahal. Cukup dengan barang yang ada di sekitar rumah," ujar Dony Rizky Hidayat, ketua kelompok. Proyek ini sekaligus mengajarkan pentingnya menjaga sumber air bersih sejak dini.
Proyek kedua mengasah ketelitian dan kreativitas. Anak-anak menempel potongan grape paper di atas pola gambar yang sudah disediakan — persis seperti petunjuk di buku Tempel Saja.
Kegiatan ini melatih kemampuan mengikuti instruksi tertulis. Mahasiswa KKN hanya mendampingi, bukan mengerjakan. Hasilnya, setiap anak menghasilkan kolase dengan bentuk dan warna yang berbeda-beda.
Menurut Dony, pendekatan proyek berbasis bacaan ini sengaja dipilih karena anak-anak di desa kerap kesulitan memahami isi buku jika hanya dibaca sendiri. "Dengan praktik, mereka tidak hanya hafal cerita, tapi juga paham cara kerja sesuatu," katanya.
Program ini merupakan bagian dari KKN Tematik Literasi USK yang menekankan integrasi membaca dengan pengalaman langsung. Mahasiswa berharap metode serupa bisa diterapkan di sekolah-sekolah dasar di Aceh Besar.