MEULABOH — Ratusan hektare sawah di Kabupaten Aceh Barat mulai mengering dalam sepekan terakhir. Kondisi ini dikeluhkan petani di Kecamatan Johan Pahlawan dan Kecamatan Meureubo, dua sentra produksi padi di wilayah barat Aceh.
Tanaman padi yang baru berusia 20 hingga 40 hari terancam gagal panen jika tidak segera mendapat pasokan air. Sebagian petak sawah di kawasan irigasi tersier sudah mulai retak-retak.
Pemerintah Kabupaten Aceh Barat melalui Dinas Pertanian dan Pangan telah menyiagakan sejumlah unit pompa air untuk didistribusikan ke titik-titik sawah yang paling kritis. Pompa tersebut akan digunakan untuk menyedot air dari sungai dan saluran primer ke lahan petani.
“Kami sedang mendata luas lahan yang terdampak dan kebutuhan pompa di setiap kecamatan. Distribusi akan dilakukan bertahap mulai pekan ini,” ujar Kepala Dinas Pertanian dan Pangan Aceh Barat, yang dikonfirmasi Selasa (28/7/2026).
Kekeringan mulai terasa sejak awal Juli 2026. Intensitas curah hujan yang rendah membuat debit air di sungai-sungai kecil menurun drastis. Petani yang biasa mengandalkan irigasi teknis kini bergantung sepenuhnya pada pompa.
“Kami sudah dua minggu ini cemas. Kalau pompa tidak cepat turun, padi bisa mati semua,” kata seorang petani di Gampong Suak Indrapuri, Kecamatan Johan Pahlawan.
Aceh Barat merupakan salah satu lumbung padi di Provinsi Aceh. Produksi padi di wilayah ini biasanya menyuplai kebutuhan beras ke sejumlah kabupaten tetangga seperti Nagan Raya dan Aceh Jaya. Jika kekeringan meluas, harga beras di pasar lokal berpotensi naik dalam beberapa bulan ke depan.
Pemerintah daerah mengimbau petani untuk tidak melakukan tanam baru hingga pasokan air benar-benar terjamin. Sebagai gantinya, petani disarankan mengolah lahan dengan palawija yang lebih tahan kering seperti jagung atau kacang tanah.
Selain pompa air, Pemkab Aceh Barat juga menyiapkan bantuan benih padi varietas unggul yang lebih tahan kekeringan untuk musim tanam berikutnya. Bantuan ini dijadwalkan tiba pada Agustus 2026.
Petani berharap distribusi pompa tidak molor. Sebab, setiap hari tanpa air berarti ancaman gagal panen semakin nyata. “Kami minta pemerintah turun langsung ke sawah, bukan cuma kirim pompa. Lihat sendiri kondisi kami,” ujar petani lainnya di Kecamatan Meureubo.