ACEH — ZTE meluncurkan hotspot portabel M3 Pro 5G untuk pasar Tiongkok dengan klaim kecepatan unduh hingga 500Mbps dan harga 599 yuan. Perangkat ini mendukung jaringan 5G Standalone (SA) maupun Non-Standalone (NSA), plus 4G dan 3G sebagai cadangan saat sinyal 5G tidak tersedia. Hotspot ini menyasar pengguna yang butuh koneksi internet stabil saat bepergian atau bekerja di luar rumah.
ZTE M3 Pro 5G ditenagai prosesor octa-core yang dibangun di proses manufaktur 6nm. Nama chipset-nya tidak diungkap perusahaan dalam materi peluncuran. Dukungan 5G SA dan NSA membuat perangkat ini kompatibel dengan berbagai konfigurasi jaringan operator yang sudah menggelar 5G secara komersial.
Sembilan Antena dan Dukungan 4x4 MIMO
Untuk menjaga stabilitas sinyal, ZTE menyematkan sembilan antena di bodi M3 Pro 5G. Perangkat ini juga mendukung 4x4 MIMO pada sejumlah pita 5G tertentu guna menangani aliran data lebih besar. Klaim kecepatan unduh 500Mbps tetap bergantung pada wilayah dan kekuatan sinyal operator yang digunakan.
Pada sisi konektivitas lokal, hotspot ini memakai Wi-Fi 6 dengan dukungan pita 2,4GHz dan 5GHz. ZTE menyebut pita 2,4GHz di M3 Pro 5G lebih cepat dibanding model sebelumnya. Klaim jangkauan sinyal nirkabelnya mencapai 220 meter, meski hanya optimal di ruang terbuka tanpa dinding atau gangguan sinyal lain.
Koneksi NFC dan Baterai 5000mAh
M3 Pro 5G bisa menampung hingga 16 perangkat yang terhubung bersamaan. Untuk ponsel Android yang kompatibel, tersedia tag NFC terintegrasi sehingga pengguna cukup menempelkan perangkat untuk terhubung tanpa mengetik kata sandi.
Baterai 5000mAh diklaim bertahan hingga 14,5 jam pemakaian normal. Pada versi tertentu, perangkat ini mendukung kartu SIM 5G sehingga pengguna bisa berpindah operator secara manual ketika jaringan terputus atau tidak stabil.
Harga dan Ketersediaan
ZTE membanderol M3 Pro 5G di harga 599 yuan. Peluncuran ini menyasar pasar Tiongkok lebih dulu, mengikuti pola ZTE yang kerap merilis perangkat jaringan konsumen di negaranya sebelum masuk pasar lain.
Belum ada keterangan resmi soal jadwal masuk Indonesia atau pasar Asia Tenggara lainnya. Bagi pelaku bisnis digital yang sering bekerja mobile, perangkat sekelas ini jadi alternatif koneksi cadangan di luar tethering ponsel.