ACEH — Pimpinan Wilayah Bulog Jawa Barat, Nurman Susilo, mengungkapkan realisasi penyerapan gabah hingga pertengahan 2026 telah mencapai 1.160.873 ton Gabah Kering Panen (GKP) dan 3.069 ton beras. Total setara beras dari serapan tersebut mencapai 596.896 ton.
“Produksi padi Jawa Barat yang meningkat menjadi bukti bahwa sektor pertanian kita terus tumbuh. Bulog hadir untuk memastikan hasil produksi petani dapat terserap dengan baik,” kata Nurman di Bandung, Selasa (28/7).
Proses penyerapan dilakukan dengan mengacu pada Harga Pembelian Pemerintah (HPP) sebesar Rp6.500 per kilogram untuk kualitas GKP. Bulog juga membuka akses seluas-luasnya bagi petani lokal tanpa pembatasan kuota.
Nurman menegaskan petani tidak perlu khawatir soal pemasaran hasil panen. Seluruh petani memiliki kesempatan menjual gabah ke Bulog melalui satuan kerja atau mitra penggilingan yang telah bekerja sama.
“Petani tidak perlu khawatir terhadap pemasaran hasil panennya. Seluruh petani memiliki kesempatan untuk menjual gabah kepada Bulog melalui jaringan yang tersedia,” ucapnya.
Langkah ini menjadi kunci menjaga keseimbangan antara kepentingan petani dan kebutuhan masyarakat akan pasokan beras yang stabil.
Dengan volume cadangan sebesar 847 ribu ton, posisi Jawa Barat sebagai lumbung pangan utama nasional semakin kokoh. Stok tersebut dinilai lebih dari cukup untuk meredam gejolak harga dan menjaga stabilitas pasokan di pasar.
“Stok yang kami miliki saat ini lebih dari cukup. Kami terus menjaga ketersediaan agar masyarakat Jawa Barat mendapatkan kepastian pasokan beras dengan harga yang stabil,” kata Nurman.
Lonjakan produksi padi Jawa Barat pada 2025 yang mencapai 10,23 juta ton Gabah Kering Giling (GKG) menjadi fondasi utama ketahanan pangan di wilayah tersebut. Bulog memanfaatkan momentum ini untuk memperkuat cadangan beras pemerintah (CBP) sekaligus menjamin kesejahteraan petani melalui penyerapan hasil panen yang optimal.