LHOKSEUMAWE — Forum bertajuk International Symposium and Expert Panel tersebut diselenggarakan oleh Yayasan Sukma bekerja sama dengan Cambridge International School. Acara ini mempertemukan akademisi dan pakar dari berbagai negara untuk membahas strategi pendidikan global.
Dr. Iryana menyampaikan paparan berjudul Aceh Perspective: Education as the Foundation of Integrity and Humanity. Ia menegaskan bahwa pendidikan tidak boleh hanya berorientasi pada pencapaian akademik semata.
"Dari perspektif Aceh, pendidikan bukan sekadar proses transfer pengetahuan, melainkan fondasi dalam membentuk generasi yang cerdas, berintegritas, dan menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan. Inilah kontribusi yang ingin Aceh berikan bagi Indonesia," kata Iryana dalam pemaparannya.
Untuk memperkuat argumennya, Iryana merujuk data Balai Penjaminan Mutu Pendidikan (BPMP) Provinsi Aceh. Data tersebut menunjukkan peningkatan capaian literasi, numerasi, dan karakter peserta didik tingkat Sekolah Menengah Pertama sepanjang 2023 hingga 2025.
Menurutnya, tren positif ini menjadi indikator bahwa pembangunan sektor pendidikan di Aceh berjalan ke arah yang benar. Bukan hanya kecerdasan intelektual, tetapi juga kejujuran, tanggung jawab, dan kepedulian sosial mulai terukur.
Forum ini turut menghadirkan sejumlah akademisi internasional dengan topik yang beragam. Professor Eero Ropo membahas pendidikan perubahan iklim (Climate Change Education), sementara Dr. Tahir Shad mengulas pertukaran pendidikan antara Amerika Serikat dan dunia Muslim.
Professor Yuji Uesugi memaparkan pendidikan sebagai sarana membangun perdamaian dan rekonsiliasi. Adapun Professor Jean Greyling bersama Ryan Le Roux memperkenalkan pendekatan Tangible Coding in Schools untuk mengembangkan kemampuan berpikir komputasional secara menyenangkan.
Pada sesi Expert Respondent, Iryana duduk sebagai panelis bersama Prof. Komaruddin Hidayat dan Prof. Dr. Ir. Ahmad Human Hamid.
Dekan FKIP Unimal, Dr. Muhammad Yusuf, M.T, menyambut positif partisipasi dosennya di forum internasional. Ia menilai langkah ini penting untuk memperluas jejaring akademik.
"Forum seperti ini tidak hanya menjadi ruang berbagi gagasan, tetapi juga membuka peluang kerja sama dalam bidang pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat. Kami berharap kontribusi dosen Unimal di tingkat internasional semakin memperkuat posisi universitas dalam mendukung pengembangan pendidikan yang berkualitas, inklusif, dan berkelanjutan," ungkapnya.