**JANTHO** — Kemenag Aceh Besar melantik 19 Kepala Kantor Urusan Agama (KUA). Pelantikan ini menandai transformasi peran KUA, dari sekadar pencatatan pernikahan menjadi pusat layanan keagamaan di 23 kecamatan. Para pejabat baru dituntut menghadirkan layanan inklusif dan responsif terhadap kebutuhan warga gampong.
Pelantikan digelar di Aula Kanwil Kemenag Provinsi Aceh, Banda Aceh, Kamis. Kepala Kemenag Aceh Besar, Saifuddin, menyatakan KUA kini mengemban cakupan layanan keagamaan yang jauh lebih luas. Peran ini sekaligus menegaskan posisinya yang tidak lagi sekadar administratif.
"KUA tak sekadar tempat catat nikah. KUA kini memiliki cakupan layanan keagamaan yang lebih luas," kata Saifuddin di Aceh Besar, Kamis.
Saifuddin merinci perluasan peran ini. Selain pencatatan pernikahan, KUA kini menangani pembinaan keluarga, bimbingan perkawinan, kemasjidan, pengelolaan zakat dan wakaf, hingga hisab rukyat.
Konsekuensinya, kepala KUA tidak cukup hanya cakap secara administratif. Mereka dituntut membangun komunikasi dekat dengan masyarakat di tingkat kecamatan maupun gampong.
"Kita berharap seluruh fungsi KUA dapat terlaksana maksimal dan seluruh jenis layanan KUA dapat disediakan secara proporsional," ujarnya.
Saifuddin menginstruksikan setiap KUA agar mampu membaca kebutuhan masyarakat di wilayah kerjanya masing-masing. Layanan keagamaan harus mudah diakses oleh warga.
"Kami berharap seluruh KUA dapat semakin optimal, responsif, dan mampu menjawab kebutuhan masyarakat yang terus berkembang," tegas Saifuddin.
Kepala Kanwil Kemenag Aceh, Azhari, mengingatkan KUA agar peka terhadap fenomena sosial terkini. Penyuluh agama di KUA, kata dia, memegang posisi strategis untuk mengedukasi masyarakat.
"Kita harus peka dengan kondisi Aceh hari ini. Ada isu HIV dan perkembangan LGBT yang begitu masif dan perlu menjadi perhatian bersama. Kita harus hadir memberikan dukungan kepada masyarakat, membimbing dan mengedukasi agar jauh dari perbuatan itu," katanya.
Edukasi dapat disalurkan melalui kanal yang telah ada di masyarakat. Azhari menyebut khutbah dan pengajian sebagai media efektif untuk penyuluhan agama.
"Penyuluhan bisa dilakukan di mana saja, baik melalui khutbah, saat pengajian, maupun di berbagai tempat lainnya," demikian Azhari.
Pelantikan ini menjadi momentum penyegaran layanan KUA se-Aceh Besar. Kebutuhan masyarakat yang terus berubah menuntut adaptasi cepat dari seluruh jajaran.