Pencarian

Mengais Rezeki di Pasar Aceh sejak 1986, Bang Ilyas Berharap Pengrajin Kecil Tak Terlupakan

Kamis, 03 September 2026 • 19:44:01 WIB
Mengais Rezeki di Pasar Aceh sejak 1986, Bang Ilyas Berharap Pengrajin Kecil Tak Terlupakan
Pengrajin batu cincin, Ilyas, mengasah batu di Pasar Aceh, Banda Aceh, tempat ia bekerja sejak 1986.

BANDA ACEH — Suara mesin pengasah batu masih terdengar di salah satu sudut Pasar Aceh, Jalan Chik Pante Kulu, Banda Aceh. Di tengah lalu-lalang yang mulai lengang, Ilyas tetap tekun mengerjakan batu cincin di mesin kecil yang menemaninya sejak remaja. Pria yang akrab disapa Bang Ilyas ini mulai menggeluti profesi pengrajin batu cincin pada 1986, saat duduk di bangku SMP.

Hampir empat dekade berlalu, tren batu akik yang sempat booming di masyarakat kini meredup. Daya beli ikut menurun, dan pengrajin kecil seperti Ilyas merasakan dampaknya. “Capek sekali. Saya hanya mengandalkan kemauan dan kemampuan sendiri,” ujarnya di sela aktivitas.

Ilyas mengaku belum banyak merasakan perhatian khusus yang ditujukan untuk membantu pengrajin kecil mempertahankan usahanya. Baginya, persoalan bukan sekadar mempertahankan lapak atau menjual batu cincin. Ada keluarga yang harus dihidupi dari penghasilan yang tidak selalu datang setiap hari.

Tren Batu Akik Meredup, Pengrajin Kecil di Pasar Aceh Kian Terjepit

Pada masanya, batu cincin tidak hanya dipakai sebagai aksesori, tetapi juga barang koleksi yang punya nilai tersendiri bagi penggemarnya. Tren itu membuat banyak orang berbondong-bondong menjadi pengrajin dan pedagang batu akik. Kini suasananya berbalik.

Para pengrajin yang masih bertahan harus menghadapi perubahan selera, persaingan usaha, dan kondisi ekonomi yang menurut Ilyas semakin sulit. Meski begitu, ia memilih tidak menyerah. Keterampilan mengasah batu yang dipelajari sejak masa SMP menjadi satu-satunya modal untuk tetap hidup.

“Coba Sekali-kali Lihat Kami yang di Dalam Pasar”

Di tengah situasi itu, Ilyas hanya berharap pemerintah daerah tidak hanya melihat geliat ekonomi dari usaha-usaha besar. Ia ingin pengrajin kecil di kawasan pasar mendapat prioritas dan dukungan, terutama untuk menghadapi perubahan kondisi ekonomi yang semakin berat.

“Harusnya pedagang kecil seperti kami ini bisa mendapatkan prioritas. Coba sekali-kali lihat kami yang ada di dalam pasar ini,” katanya.

Puluhan tahun berada di Pasar Aceh membuat pekerjaannya bukan hanya soal mengasah batu. Ilyas menjadi saksi bagaimana kawasan perdagangan itu berubah dari waktu ke waktu, sementara profesi tradisional seperti pengrajin batu cincin perlahan semakin jarang terlihat.

Harapan Sederhana: Tetap Bekerja dan Menghidupi Keluarga

Harapan Ilyas tidak muluk. Ia ingin tetap bisa bekerja, mempertahankan keahlian yang telah dijalaninya sejak 1986, dan membawa pulang penghasilan untuk keluarga. Ia berharap pihak yang berkompeten menoleh kepada pedagang kecil yang selama bertahun-tahun bertahan dengan kemampuan sendiri.

Di tengah perubahan zaman, mesin pengasah di meja kecilnya masih terus berputar. Bagi Ilyas, suara itu bukan sekadar bunyi alat kerja, tetapi tanda bahwa profesi yang telah digelutinya sejak belasan tahun belum benar-benar menyerah kepada zaman.

Follow redaksiaceh.com

Add this site to your preferred sources on Google

Add to preferred sources
Bagikan
Sumber: portalnusa.com

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Lainnya

Indeks

Berita Terkini

Indeks