Ketua Karang Taruna Subulussalam Usul Pembentukan Provinsi Singkil Raya, Minta Dikaji Akademis

Penulis: Jonatan Nasution  •  Rabu, 16 September 2026 | 22:45:31 WIB
Ketua Karang Taruna Subulussalam, Wahda, mengusulkan pembentukan Provinsi Singkil Raya dalam diskusi bersama tokoh masyarakat.

SUBULUSSALAM — Wahda menilai keluarnya Subulussalam dan Aceh Singkil dari usulan Provinsi ALA harus jadi momentum bagi warga kedua daerah menentukan arah pembangunan sendiri. Menurutnya, keputusan PBSA itu membuka ruang bagi masyarakat setempat untuk menyusun format pembangunan yang sesuai karakter wilayahnya.

Ia menyoroti sikap sebagian pihak yang dianggap terlalu mudah mengambil keputusan soal keberadaan Subulussalam dan Aceh Singkil dalam gagasan pemekaran. Wahda meminta keputusan menyangkut masa depan kedua daerah tidak ditentukan sepihak.

Mengapa Subulussalam dan Aceh Singkil Dinilai Punya Dasar Kuat

Wahda berpandangan Subulussalam dan Aceh Singkil memiliki hubungan sejarah dan sosial yang kuat. Kedua daerah juga berada dalam satu kawasan yang saling berkaitan secara geografis.

Karakter sosial, budaya, sejarah, serta keberagaman etnik di kedua wilayah dinilai memiliki kekhasan tersendiri. Atas dasar itu, ia mendorong para tokoh dari kedua daerah membuka ruang diskusi mengenai konsep Provinsi Singkil Raya.

“Kalau memang Subulussalam dan Aceh Singkil tidak lagi masuk dalam usulan tersebut, saya kira ini menjadi momentum bagi kita untuk duduk bersama. Para tokoh, pemuda, akademisi dan seluruh elemen masyarakat perlu membahas masa depan daerah kita secara serius,” ujar Wahda, Rabu 16 September 2026.

Minta Kajian Akademis, Bukan Saling Klaim

Wahda menegaskan gagasan Provinsi Singkil Raya bukan untuk memecah persaudaraan sesama masyarakat Aceh. Ia menyebut usulan itu sebagai bagian dari upaya mencari format pembangunan yang paling sesuai dengan kebutuhan warga Subulussalam dan Aceh Singkil.

Ia meminta proses pembahasan melibatkan kajian akademis dan partisipasi masyarakat luas. Menurutnya, keputusan soal masa depan daerah harus menghargai karakter, budaya, dan aspirasi masing-masing wilayah.

“Jangan sampai keputusan tentang masa depan Subulussalam dan Aceh Singkil ditentukan sepihak. Kita harus menghargai karakter, budaya dan aspirasi masyarakat masing-masing daerah,” tegasnya.

“Ini bukan persoalan siapa bergabung dengan siapa. Ini tentang bagaimana kita menentukan masa depan daerah dengan melihat sejarah, budaya, kondisi geografis, potensi ekonomi dan aspirasi masyarakat,” katanya.

Langkah Berikutnya

Wahda mendorong para tokoh dari Subulussalam dan Aceh Singkil segera duduk bersama membahas konsep Singkil Raya. Ia meminta pembahasan mengacu pada ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku.

“Kita perlu duduk bersama. Jangan saling mengklaim. Mari kita kaji secara akademis dan libatkan masyarakat. Kalau Singkil Raya menjadi gagasan yang paling tepat untuk masa depan, kenapa tidak kita perjuangkan bersama,” pungkas Wahda.

Reporter: Jonatan Nasution
Sumber: rri.co.id This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top