JANTHO — Kunjungan diterima Wakil Ketua Harian Dekranasda Aceh Besar Nurbaiti bersama jajaran pengurus. Rombongan siswa didampingi Kepala MAN 1 Model Banda Aceh Dr. Nursiah, S.Ag., M.Pd., Wakil Kepala Bidang Kurikulum Zakia Munte, S.Pd., serta Wali Kelas XI Rina Novia, S.Si.
Di Rumoh Batik Malaka, siswa tidak hanya menyaksikan proses pembuatan batik. Mereka diberi kesempatan mempraktikkan langsung teknik membatik, mulai dari mengenal proses hingga menghasilkan karya sendiri.
Kegiatan ini dirancang sebagai bagian dari pembelajaran kokurikuler, yakni pembelajaran di luar lingkungan sekolah. Siswa diperkenalkan pada proses pembuatan batik sekaligus kekayaan kerajinan dan budaya Aceh.
Menurut Nurbaiti, keterlibatan generasi muda dalam mengenal kerajinan daerah menjadi bagian penting untuk menjaga keberlangsungan produk lokal Aceh.
"Generasi muda perlu mengenal produk kerajinan daerah secara langsung. Dengan mengetahui proses dan nilai yang ada di balik sebuah karya, kita berharap mereka memiliki kepedulian untuk menjaga dan merawat kerajinan lokal Aceh agar tetap berkembang dan dikenal di masa sekarang maupun masa yang akan datang," ujar Nurbaiti.
Ia menilai kunjungan tersebut bisa menjadi ruang bertukar pengetahuan dan kreativitas antara dunia pendidikan dan pelaku kerajinan.
"Kami berharap kunjungan ini tidak hanya menjadi pengalaman bagi para siswa, tetapi juga dapat menghadirkan ide dan gagasan baru bagi pengembangan Batik Malaka. Kreativitas anak-anak muda sangat dibutuhkan untuk melahirkan inovasi, baik dari sisi motif, desain maupun cara memperkenalkan batik kepada masyarakat," katanya.
Kepala MAN 1 Model Banda Aceh Nursiah menyebut pembelajaran di luar kelas bertujuan menanamkan rasa nasionalisme sekaligus kecintaan siswa terhadap produk lokal. Menurutnya, pengalaman langsung memberi kesan berbeda karena siswa dapat melihat, memahami, dan mempraktikkan sendiri proses pembuatan kerajinan Aceh.
"Kami ingin anak-anak memiliki rasa nasionalisme dan kecintaan terhadap tanah air, termasuk dengan menghargai produk-produk lokal. Melalui kunjungan dan praktik membatik ini, siswa dapat mengenal lebih dekat proses pembuatan batik sekaligus memahami bahwa Aceh memiliki produk kerajinan yang memiliki nilai budaya dan ekonomi," ujar Nursiah.
Ia berharap pengalaman tersebut menumbuhkan kepedulian terhadap keberadaan produk lokal.
"Kami berharap apa yang mereka dapatkan hari ini bisa menjadi pengalaman yang berkesan dan pengetahuan yang terus mereka bawa. Semoga anak-anak semakin mengenal, mencintai dan ikut memperkenalkan produk lokal Aceh kepada lingkungan mereka," pungkasnya.
Rumoh Batik Malaka berada di Gampong Lam Ara, salah satu sentra kerajinan batik di Kabupaten Aceh Besar. Kehadiran siswa kelas unggulan MAN 1 Model Banda Aceh menyasar sisi regenerasi: memperkenalkan batik kepada pelajar yang disiapkan melanjutkan ke sekolah kedinasan.
Dekranasda Aceh Besar berperan sebagai fasilitator kunjungan. Lembaga ini menaungi pembinaan kerajinan daerah, termasuk batik, sebagai produk bernilai budaya sekaligus ekonomi bagi warga setempat.