JAKARTA — Dari ketiga pejabat yang menjalani prosesi peusijuk, hanya Khaidir Abdurrahman yang hadir langsung. Sugiono dan Fadli Tri Hartono berhalangan karena tengah mendampingi Presiden Prabowo Subianto menyambut Presiden Republik Arab Mesir, Abdel Fattah El-Sisi, di Istana Merdeka.
Meski tidak hadir secara fisik, keduanya menyampaikan terima kasih dan apresiasi atas pelaksanaan peusijuek dan tasyakuran tersebut. Prosesi berlangsung khidmat dan dihadiri sejumlah tokoh penting Aceh.
Wakil Gubernur Aceh H Fadhlullah, atau yang akrab disapa Dek Fadh, turut hadir bersama ulama kharismatik Aceh, perwakilan tokoh masyarakat, serta jajaran pemuda Aceh di Jakarta.
Ritual peusijuk dipimpin langsung oleh tokoh adat senior. Tradisi ini dimaknai sebagai simbol penyucian niat dan permohonan keberkahan sebelum para pejabat memulai amanat baru di jajaran pemerintahan pusat.
Husaini menjelaskan bahwa peusijuk merupakan tradisi masyarakat Aceh yang mengandung rasa syukur sekaligus doa restu. Harapannya, sang pejabat diberi kekuatan, ketenangan, dan keselamatan dalam mengemban tugas negara.
Menurut Husaini, pelantikan ketiga putra Aceh ini menandakan kepercayaan besar Presiden Prabowo Subianto. Kepercayaan itu datang bersama harapan besar dari seluruh masyarakat Aceh agar mereka mampu berkontribusi bagi daerahnya.
Ia menegaskan bahwa prosesi peusijuk bukan sekadar tradisi seremonial. Ritual ini menjadi simbol doa dan pengingat untuk menjaga nama baik daerah melalui kontribusi positif di berbagai bidang.
"Kami berharap ketiga pejabat Aceh yang baru dilantik dapat menjaga integritas, memegang teguh nilai-nilai keislaman dan ke-Aceh-an, serta bekerja penuh dedikasi demi kemajuan bangsa dan kesejahteraan rakyat sesuai harapan Bapak Presiden Prabowo," kata Husaini.
Husaini menekankan bahwa amanah jabatan di tingkat pusat seharusnya berdampak langsung bagi pembangunan Aceh. Ketiga pejabat diharapkan membuka jalur kolaborasi antara pemerintah pusat dan daerah, terutama di sektor pembangunan manusia, pengelolaan keuangan negara, serta komunikasi publik.
Prosesi tasyakuran ini menjadi penanda bahwa jejaring pejabat asal Aceh di Jakarta terus menjaga hubungan dengan kampung halaman. Tradisi peusijuk dipilih bukan tanpa alasan, karena mengandung pesan moral tentang tanggung jawab dan integritas.