JAKARTA — BPMA menilai dua struktur migas di perairan barat daya Aceh belum bisa langsung masuk tahap pengembangan lapangan. Evaluasi masih diperlukan untuk memastikan karakteristik reservoir, besaran sumber daya yang dapat diproduksikan, dan kelayakan keekonomiannya sebelum keputusan investasi diambil.
Workshop Penentuan Status Eksplorasi menjadi forum pembahasan hasil evaluasi teknis bersama Conrad Asia Ltd. Perusahaan itu diwakili General Manager Eryanto Effendi, Exploration Manager Minarwan, dan tim teknis terkait.
Dua sumur eksplorasi lama menjadi acuan awal penilaian. Sumur Singkil-1 yang dibor pada 1973 pernah mencatat aliran gas 10,06 MMSCFD, sementara Sumur Meulaboh-1 yang dibor pada 1970 mencatat 6,7 MMSCFD.
Catatan aliran gas masa lalu itu belum cukup untuk memastikan besaran sumber daya yang bisa diproduksikan saat ini. BPMA menegaskan kajian lanjutan tetap dibutuhkan, terutama untuk memastikan kondisi reservoir dan aspek komersialnya.
Kepala BPMA Mawardi Nur menekankan setiap tahapan pengembangan harus dijalankan terukur berdasarkan kajian teknis. Kelayakan komersial dan pemenuhan seluruh ketentuan yang berlaku juga menjadi syarat yang tidak bisa dilewati.
"Kita ingin memastikan proses pengembangan potensi migas Aceh dapat berjalan lebih cepat, khususnya pada wilayah-wilayah yang memiliki potensi untuk dikembangkan. Percepatan ini penting agar potensi sumber daya migas Aceh dapat segera dievaluasi dan ditindaklanjuti secara optimal," ujar Mawardi dalam keterangan resminya, Sabtu (18/10/2026).
Menurut Mawardi, rencana pengembangan lapangan tidak dapat dipisahkan dari evaluasi menyeluruh terhadap potensi sumber daya, aspek teknis, dan keekonomian. Koordinasi antara BPMA dan kontraktor diperlukan agar setiap keputusan berpijak pada data yang dapat dipertanggungjawabkan.
Hasil evaluasi akan menentukan tahapan kegiatan selanjutnya. Jika seluruh persyaratan terpenuhi, proses bisa berlanjut ke persiapan pengembangan lapangan melalui Plan of Development.
Workshop di Jakarta itu dihadiri Deputi Perencanaan BPMA Afrul Wahyuni, Kepala Divisi Perencanaan Eksplorasi dan Eksploitasi Teuku Rizky, Kepala Divisi Teknologi dan Pengembangan Lapangan Arie Fahdhomi, serta tim perencanaan BPMA. Pembahasan mencakup identifikasi potensi sumber daya gas dan peluang pengembangan kedua struktur.