Kabut Asap Selimuti Aceh Sejak 13 Oktober 2026, Warga Aceh Singkil hingga Aceh Selatan Diminta Waspadai PM2,5

Penulis: Ricki Manurung  •  Selasa, 20 Oktober 2026 | 14:31:31 WIB
Kabut asap menyelimuti Aceh sejak 13 Oktober 2026 dan membawa partikel halus PM2,5 yang berisiko bagi saluran pernapasan.

ACEH — Kabut asap yang menyelimuti Aceh sejak 13 Oktober 2026 membawa ancaman yang tidak kasat mata: partikel halus PM2,5. BMKG menegaskan konsentrasi partikel ini dapat masuk jauh ke dalam saluran pernapasan, bukan sekadar mengganggu pandangan atau menimbulkan bau terbakar.

Asap yang sama pernah menghantam Malaysia pada 2015. Catatan resmi Jabatan Alam Sekitar Malaysia (DOE) menyebut episod jerebu saat itu berpunca dari pencemaran rentas sempadan akibat pembakaran hutan di Sumatera. Kala itu 4.000 sekolah diliburkan.

Jalur Asap dari Empat Provinsi Menuju Aceh

BMKG dalam informasi tertanggal 16 Oktober 2026 menyebut kabut asap berasal dari karhutla di Sumatera Selatan, Jambi, Kalimantan Tengah, dan Kalimantan Selatan. Pergerakan angin dari arah timur-tenggara ke barat laut membawa gumpalan asap lintas wilayah atau transboundary haze hingga ke Aceh.

Asap sudah masuk ke dalam rumah-rumah warga di Aceh Singkil, Aceh Jaya, dan Aceh Selatan. Dinas Kesehatan di tiga kabupaten itu mengeluarkan imbauan serupa: pakai masker, kurangi aktivitas di luar, jaga anak-anak dan orang tua.

ISPA Naik ke Peringkat 2, Tiga Kali Lipat dari Biasanya

Plt. Kadis Kesehatan Aceh Singkil, Mursal, mengingatkan kondisi asap tidak boleh dianggap sepele. Dampaknya paling berisiko bagi kelompok rentan seperti bayi, anak-anak, ibu hamil, lansia, dan penderita asma atau penyakit kronis.

Pengalaman tenaga medis di lapangan menunjukkan pola yang konsisten. Di daerah yang terpapar asap karhutla, kasus ISPA yang biasanya berada di peringkat 8 atau 9 kini naik ke peringkat 2 setelah hipertensi, dengan perkembangan tiga kali lipat.

ISPA bukan batuk pilek biasa. PM2,5 adalah partikel yang tidak bisa disaring bulu hidung. Ia langsung masuk ke paru-paru, ke alveoli, bahkan ke dalam darah.

Yang Menyelamatkan Kita Pertama Kali Adalah Rumah Kita Sendiri

Gubernur Aceh Muzakir Manaf sudah mengimbau masyarakat mengurangi aktivitas di luar ruangan ketika polusi udara meningkat dan menggunakan masker yang sesuai. Imbauan itu sejalan dengan pelajaran dari peristiwa jerebu Malaysia 2015.

Saat itu, gabungan pemuda Indonesia dan Malaysia yang tergabung dalam BP KNPI Malaysia bersama Majelis Belia Malaysia menggelar aksi bagi-bagi masker di depan Menara Petronas, Kuala Lumpur. Masker berasal dari sumbangan warga yang prihatin. Aksi simbolik itu diliput televisi kedua negara, termasuk TV One.

Pada 17 September 2015, kedua organisasi menggelar "Dialog Belia Serumpun" yang merekomendasikan solusi penanganan komprehensif agar kasus serupa tidak terulang. Sebelas tahun kemudian, asap itu justru mengepung rumah sendiri.

Masker Saja Tidak Cukup, Ini yang Perlu Disiapkan Warga

Pengalaman 2015 menunjukkan masker yang dibagikan tidak mampu menyelesaikan masalah. Yang dibutuhkan adalah penanganan bersama, bukan mencari kambing hitam. Bagi warga Aceh, langkah paling langsung adalah menutup ventilasi rumah saat asap pekat, memantau kualitas udara, dan segera ke fasilitas kesehatan bila sesak napas muncul.

Kelompok rentan perlu diprioritaskan. Bayi, anak-anak, ibu hamil, lansia, dan penderita penyakit kronis sebaiknya tetap di dalam ruangan selama kabut asap belum mereda.

Reporter: Ricki Manurung
Sumber: mediacivitas.lkppl.org This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top