ACEH — Banyak ibu yang ingin turun berat badan setelah melahirkan langsung memotong gula dan nasi secara total dalam semalam. Padahal, dokter gizi menyarankan defisit kalori ringan 300–500 kalori dan pengurangan gula bertahap agar tubuh tidak syok. Berikut strategi yang lebih bertahan lama.
Spesialis gizi klinik dr Igus Ulfa Yaze, SpGK, menyebut perubahan pola makan mendadak hingga 180 derajat justru memicu rasa bosan. Ia mencontohkan menu serba rebusan dan sayur setiap hari sebagai pola yang paling cepat membuat orang menyerah.
Pernyataan itu disampaikan dr Yaze dalam siaran langsung TikTok detikHealth, Kamis (15/10/2026). Ia menekankan konsistensi dan perubahan gaya hidup permanen sebagai kunci, bukan batasan ketat yang menyiksa diri.
Rasa tersiksa akibat perubahan ekstrem membuat program diet tidak bertahan lama. Banyak orang kapok dan berhenti hanya dalam hitungan minggu karena merasa diet tidak membahagiakan.
"Nggak perlu diet ketat, karena kalau misalnya dalam sebulan ini 180 derajat kamu berubah, makannya cuma rebusan sama sayur doang, terus misalnya makannya jadi karbonya diganti kentang, itu pasti ngerasa tersiksa," ujar dr Yaze.
"Nanti lama-lama akhirnya bosan atau nggak semangat buat makan," lanjut dia.
Alih-alih memotong porsi makan secara drastis, dr Yaze menganjurkan defisit kalori ringan sekitar 300 sampai 500 kalori dari kebutuhan harian. Pemangkasan bertahap ini memberi fisik dan mental waktu beradaptasi.
Untuk ibu yang masih menyusui atau mengurus anak sepanjang hari, defisit ringan lebih aman dijalani. Energi tetap cukup untuk aktivitas, sementara berat badan turun perlahan tanpa membuat lemas.
Prinsip bertahap juga berlaku untuk minuman manis. dr Yaze menyarankan pemangkasan kadar gula perlahan ketimbang menghentikannya total secara mendadak.
"Selain itu, misalnya terbiasa minum manis, mulai dikurangi pelan-pelan. Misalnya kadar gulanya jadi 70 persen dulu, setelah terbiasa mulai dikurangi lagi jadi 50 persen, nanti pelan-pelan di 30 persen," beber dia.
"Itu biasanya akan lebih stabil. Akan lebih bertahan lama dibandingkan tiba-tiba stop gula sama sekali," tutupnya.
Ibu dengan kondisi tertentu seperti diabetes, anemia, atau sedang menjalani pengobatan sebaiknya tidak memulai diet sendiri. Konsultasi ke dokter gizi membantu menentukan kebutuhan kalori yang aman sesuai kondisi tubuh.
Begitu pula jika berat badan tidak turun setelah beberapa bulan menjalani pola makan baru, atau muncul keluhan pusing dan lemas berlebihan. Pemeriksaan lanjutan bisa mendeteksi penyebab lain di balik berat badan yang sulit turun.
Menurunkan berat badan tidak harus lewat pantangan ekstrem. Mulai dari defisit 300–500 kalori dan kurangi kadar gula minuman secara bertahap, lalu biarkan tubuh menyesuaikan diri. Cara yang terasa ringan biasanya yang paling lama bertahan.