ACEH — Nvidia RTX Spark menjalankan 22 game Windows dari 2006 hingga 2025 lewat lapisan emulasi Prism, dan seluruhnya berhasil dibuka tanpa hambatan berarti. Pengujian ini membuktikan klaim Jensen Huang soal kompatibilitas "semua aplikasi Windows" bukan sekadar janji marketing, meski ada catatan soal .NET 3.5 yang dihapus Microsoft.
Laptop berbasis Arm dengan chip RTX Spark itu diuji dengan satu game per tahun sejak 2006, diambil dari pustaka Steam, Epic, Ubisoft, EA, dan Xbox yang totalnya sekitar 3.000 judul. Hasilnya, 22 game yang dipilih semuanya bisa berjalan, termasuk judul-judul berat yang biasanya jadi momok di platform Windows on Arm.
Pemilihan game sengaja dibuat beragam: beda mesin grafis, beda versi DirectX, dan beda masalah teknis khas era masing-masing. Ada tiga game dari 2015 karena Metal Gear Solid V memakai engine yang tidak dipakai judul lain di daftar. The Witcher 3 yang baru dapat update besar dan Batman: Arkham Knight yang dulu sempat ditarik dari pasar juga masuk daftar uji.
Game Era DX9 dan 32-bit Justru Bertahan Baik
Far Cry 3 dan Fallout 3 sempat meminta komponen .NET 3.5 sebelum mau memasang file DirectX. Windows 11 versi 26H1 yang dipakai Windows on Arm sudah menghapus komponen itu, tapi unduhan singkat dari Microsoft menyelesaikan masalah.
Fallout 3 dikenal sering crash di CPU multicore, dan CPU Arm di laptop ini punya 20 core. Ternyata saat semuanya berjalan lewat emulasi, masalah itu tidak muncul. Kekhawatiran soal PhysX di Mirror's Edge juga tidak terbukti jadi hambatan.
Game DirectX 11 lolos semua, termasuk Arkham Knight yang terkenal bermasalah saat rilis. Sepuluh tahun patch tentu berperan, bukan lapisan translasi Arm-nya, tapi setidaknya game yang paling dicurigai bermasalah justru berjalan mulus.
Performa di Game Berat Masih di Atas 30 fps
Benchmark internal hanya dijalankan di Cyberpunk 2077 dan Shadow of the Tomb Raider karena keduanya punya alat ukur bawaan. Sebagian besar game berjalan jauh di atas 30 fps pada resolusi native 2880x1800 dengan pengaturan grafis tertinggi.
Alan Wake 2 dan Cyberpunk 2077 jadi dua judul yang paling mendekati angka 30 fps. Keduanya memang dikenal berat, dan pengaturan bisa diturunkan kalau ingin pengalaman lebih halus.
Yang menarik, Far Cry 3 justru berjalan lebih baik di laptop Arm ini dibanding PC desktop dengan Ryzen 7 9850X3D dan RTX 5090. Di desktop, game yang sama hanya mencapai 28 fps pada 1440p dan baru lewat 50 fps setelah semua pengaturan diturunkan ke low.
Masalah yang Muncul Bukan Salah Arm
Beberapa game terbuka dalam mode jendela, seperti Company of Heroes. Mirror's Edge meminta login ulang ke akun EA sebagai pemeriksaan lisensi. Deathloop dan sejumlah judul lain terbuka di resolusi 1080p atau lebih rendah, kemungkinan karena tidak mengenali hardware yang dipakai.
Semua kendala itu berasal dari perubahan platform Microsoft atau kebiasaan game lama, bukan dari arsitektur Arm. Lapisan translasi Prism yang mengubah instruksi x86 ke Arm64 menanggung beban lebih ringan dari yang diperkirakan.
Klaim Jensen Huang saat peluncuran RTX Spark di Computex soal menjalankan "setiap aplikasi yang pernah ada di Windows" memang masih perlu diuji lebih luas. Tapi untuk urusan game lawas dua dekade terakhir, hasilnya cukup meyakinkan.
Laptop ini paling masuk akal buat pengguna yang butuh mesin Windows on Arm untuk kerja sehari-hari sekaligus ingin tetap membuka koleksi game lama tanpa ribet. Bagi gamer yang mengejar frame rate tinggi di judul terbaru, desktop x86 masih jadi pilihan utama.