JAKARTA — Rincian penilaian ahli terbagi ke dalam empat kategori. Sebanyak 29 ahli atau 46% menyatakan kondisi ekonomi lebih buruk, sementara 4 ahli atau 6% menilai jauh lebih buruk. Di sisi lain, 25 ahli atau 40% menilai kondisi tidak berubah dan hanya 5 ahli atau 8% yang melihat perbaikan. Tidak ada satu pun ahli yang menilai kondisi jauh lebih baik.
Survei semesteran LPEM UI ini dirilis sebelum Badan Pusat Statistik (BPS) mengumumkan pertumbuhan ekonomi kuartal III-2026. Sebagai pembanding, ekonomi Indonesia pada kuartal II-2026 tumbuh 5,29%.
Inflasi menjadi indikator yang paling banyak disorot. Sebanyak 49 dari 63 ahli atau 78% menilai tekanan inflasi terhadap perekonomian saat ini tinggi, dengan rincian 44 ahli atau 70% menjawab tinggi dan 5 ahli atau 8% menjawab sangat tinggi.
BPS mencatat inflasi tahunan pada September 2026 mencapai 3,28%. Angka itu mendekati batas atas target Bank Indonesia di rentang 1,5%–3,5%.
Indikator kedua yang dinilai memburuk adalah penciptaan lapangan kerja. Sebanyak 46 dari 63 ahli atau 73% menilai penciptaan lapangan kerja saat ini lebih rendah dibanding enam bulan lalu.
Dari jumlah itu, 30 ahli atau 48% menjawab lebih rendah dan 16 ahli atau 25% menjawab jauh lebih rendah. Hanya sebagian kecil ahli yang melihat lapangan kerja bertahan atau membaik.
Dari sisi dunia usaha, 35 dari 63 ahli atau 56% menilai lingkungan bisnis memburuk dibanding tiga bulan lalu. Rinciannya, 26 ahli atau 41% menjawab lebih buruk dan 9 ahli atau 14% menjawab jauh lebih buruk.
Penilaian terhadap lingkungan bisnis ini melengkapi gambaran pesimisme yang muncul di dua indikator sebelumnya. Ketiga indikator — inflasi, lapangan kerja, dan lingkungan bisnis — menjadi dasar utama penilaian 52% ahli yang menyebut ekonomi nasional memburuk.
Survei LPEM UI Semester II-2026 menghimpun penilaian 63 ahli ekonomi melalui platform survei online. Hasilnya menjadi potret independen kondisi perekonomian menjelang rilis data pertumbuhan ekonomi kuartal III-2026 dari BPS.