ACEH — Angka stunting di Sleman turun menjadi 4,04% pada 2026, tapi Komisi B DPRD Sleman ingatkan pola asuh tetap jadi kunci pencegahan. Lima hal soal pengasuhan, gizi, dan sanitasi yang perlu ibu dan ayah tahu agar masa emas anak tidak terlewat.
Komisi B DPRD Sleman menyoroti pola asuh orang tua sebagai bagian penting dalam upaya mencegah stunting dan mendukung tumbuh kembang anak. Anggota Komisi B, Dara Ayu Suharto, menekankan pencegahan stunting tidak cukup hanya soal makanan bergizi.
Pemenuhan gizi harus berjalan bersama perbaikan sanitasi dan akses layanan kesehatan. Angka stunting Sleman sendiri tercatat turun menjadi 4,04% pada 2026.
Dara menyebut lima tahun pertama kehidupan menentukan kualitas tumbuh kembang anak di masa depan. Periode ini perlu dimanfaatkan sebaik mungkin untuk memenuhi kebutuhan gizi sekaligus mendukung perkembangan anak.
Gangguan pertumbuhan pada masa balita, termasuk stunting, bisa memengaruhi kualitas hidup anak di kemudian hari. Dampaknya tidak hanya pada kesehatan fisik, tetapi juga kesehatan mental dan emosional, kemampuan belajar, serta perilaku sepanjang hidup.
Keluarga menjadi lingkungan pertama tempat anak memenuhi kebutuhan fisik dan psikologisnya. Karena itu, pola asuh yang tepat perlu disertai perhatian, kasih sayang, stimulasi, dan pendampingan sesuai kebutuhan anak.
"Pola asuh harus menjadi perhatian orang tua. Anak membutuhkan lingkungan yang sehat, aman, dan penuh kasih sayang agar dapat tumbuh dan berkembang secara optimal," ujar Dara, Senin (26/10/2026).
Dara juga menyoroti perubahan pola kerja yang membuat sebagian orang tua punya waktu terbatas mendampingi anak. Dalam kondisi itu, pengasuhan kadang diserahkan kepada pengasuh atau tempat penitipan anak.
Kualitas pengasuhan tetap perlu dijaga agar kebutuhan anak terpenuhi. Pendampingan yang sesuai dibutuhkan untuk menunjang perkembangan anak selama masa pertumbuhan.
Pencegahan stunting juga berkaitan dengan kemampuan ekonomi keluarga. Pendapatan rendah dan kenaikan harga pangan dapat membatasi akses keluarga terhadap makanan bergizi.
Faktor lain meliputi pemberian ASI eksklusif, pengetahuan orang tua soal gizi, kondisi sanitasi, ketersediaan air bersih, serta akses ke pelayanan kesehatan. Semua aspek itu perlu diperhatikan bersamaan.
"Penanganan stunting tidak bisa hanya berfokus pada pemenuhan makanan. Perlu pendekatan lintas sektor agar berbagai faktor penyebabnya dapat ditangani secara menyeluruh," kata Dara.
Pemkab Sleman meluncurkan Satu Data Stunting dan program Mata Hati untuk memperkuat penanganan stunting. Kedua inovasi ini melengkapi edukasi kepada orang tua, peningkatan akses pangan bergizi, perbaikan sanitasi, dan penguatan pelayanan kesehatan.
Sinergi pemerintah, tenaga kesehatan, dan keluarga diharapkan memperkuat pencegahan stunting sejak dini.
Pantau berat dan tinggi badan anak secara rutin di posyandu atau fasilitas kesehatan terdekat. Bila pertumbuhan anak tidak sesuai usia, nafsu makan menurun terus-menerus, atau ada tanda infeksi berulang, segera konsultasikan ke dokter anak atau puskesmas.
Ibu dan ayah tidak perlu menunggu gejala berat muncul. Deteksi dini membuat penanganan lebih cepat dan hasilnya lebih baik.
Mencegah stunting dimulai dari hal kecil di rumah: menu bergizi seimbang, ASI eksklusif, sanitasi bersih, dan waktu pendampingan yang berkualitas. Dukungan pemerintah lewat data dan program seperti Mata Hati jadi pelengkap, bukan pengganti peran keluarga.