Rp17 Miliar Pulihkan Sawah Pidie Jaya, 1.253 Hektare Selesai Direhabilitasi dan 12 Hektare Siap Panen November

Penulis: Alfian Batubara  •  Jumat, 30 Oktober 2026 | 14:31:31 WIB
Petani di Desa Lueng Bimba, Pidie Jaya, merawat padi berumur 80 hari yang siap panen pada November 2026.

PIDIE JAYA — Pelaksana Harian Kepala Dinas Pertanian Pidie Jaya Muhammad Nur menyebut pekerjaan rehab ringan dan sedang di Desa Lueng Bimba dimulai Juli dan rampung Agustus 2026. Dua titik penanganan dikerjakan terpisah sesuai tingkat kerusakan lahan.

"Di Desa Lueng Bimba ini, rehab ringan dan sedang sudah tuntas. Sebanyak 12 hektare sudah hijau dengan padi berumur 80 hari, siap dipanen November ini," kata Muhammad Nur.

Produksi di lahan itu diperkirakan mencapai 9–10 ton per hektare. Sekitar 30–40 petani menggantungkan penghidupan dari hamparan tersebut.

1.112 Hektare Rehab Ringan Tuntas, Rehab Berat Baru 7,5 Hektare

Progres pemulihan terbagi tiga kategori. Rehabilitasi ringan seluas 1.112 hektare sudah selesai sepenuhnya, disusul rehabilitasi sedang 141 hektare yang juga rampung.

Kategori berat menjadi pekerjaan rumah terbesar. Dari total 290 hektare, baru sekitar 7,5 hektare yang terehab, dikerjakan di Desa Beuringen dan Blang Awe.

Suara ekskavator masih menderu di Desa Beuringen, Kecamatan Meurah Dua. Di sana 32 hektare masuk kategori rusak berat.

Warga Beuringen Minta Lahan Tetap Jadi Sawah, Bukan Berubah Fungsi

Kepala Desa Beuringen Muhammad Isa menyampaikan harapan warganya agar lahan tidak dialihfungsikan. Petani, menurut dia, butuh modal besar jika harus mengganti tanaman.

"Penghidupan kami hanya dari sawah. Pagi-pagi ibu-ibu sudah ke ladang. Kalau ini tidak dipulihkan, kami mau mencari rezeki ke mana? Mohon agar lahan ini tetap sawah, jangan berubah fungsi," ujar Muhammad Isa.

Ia menilai pemerintah sudah serius menangani pemulihan. Warga berharap seluruh lumpur di Desa Beuringen terangkat agar sawah kembali normal.

Petani Meunasah Lhok Mulai Menanam Jagung di Tahap Kedua

Di Meunasah Lhok, Kecamatan Meureudu, Bukhari (57) kembali menggarap lahan sejak saluran air dibersihkan. Sebagian petani bahkan sudah tiga kali menanam jagung.

"Ekonomi benar-benar lumpuh pascabencana, tapi sekarang sudah mulai bergerak pelan tapi pasti," kata Bukhari.

Koordinator Balai Penyuluh Pertanian Kecamatan Meureudu Mukhlis mencatat 15 desa terdampak parah, mencakup 375 hektare dari luas baku sawah 1.125 hektare di wilayahnya. Sebagian lahan sudah ditanami jagung, sebagian hampir panen.

Kendala utama ada di saluran irigasi primer dan sekunder yang butuh penanganan khusus. Mukhlis juga menanti subsidi garap tanah untuk memacu semangat petani.

Pemkab Pidie Jaya Ajukan Perpanjangan Alat Berat dan Tambahan Peralatan

Bupati Pidie Jaya Sibral Malasyi mengajukan pinjam pakai 66 unit alat berat dari Kementerian Dalam Negeri. Peralatan itu terdiri dari ekskavator, buldoser, dump truck, dan kendaraan pendukung untuk membersihkan muara, sawah, dan tambak.

Penanganan difokuskan di Kecamatan Meureudu, Jangka Buya, Meurah Dua, dan Ulim. Targetnya 10 hektare tambak dan 15 hektare sawah rusak berat pulih kembali.

Pemda kini mengajukan perpanjangan masa pinjam dari 20 hari menjadi 30 hari, sekaligus meminta tambahan peralatan agar pekerjaan lebih cepat.

51,2 Persen Target Sawah Aceh Sudah Terehabilitasi

Ketua Satgas Percepatan Rehabilitasi dan Rekonstruksi Pascabencana Sumatera yang juga Menteri Dalam Negeri Muhammad Tito Karnavian menekankan pentingnya percepatan penanganan irigasi.

"Setiap hektare lahan yang tertunda adalah masa depan keluarga petani yang tertunda pula," kata Tito Karnavian.

Secara nasional, Kementerian Pertanian menyalurkan Rp2,62 triliun untuk pemulihan pertanian di tiga provinsi terdampak. Khusus rehabilitasi sawah, Aceh menerima alokasi terbesar Rp420,55 miliar dari total Rp792,56 miliar.

Per Oktober 2026, di Aceh sudah terehabilitasi 20.914 hektare atau 51,2 persen dari target 40.820 hektare. Bantuan benih jagung disalurkan sebagai solusi jangka pendek sambil menunggu lahan siap ditanami padi.

Pemerintah menyiapkan program rehabilitasi 71.584 hektare sawah terdampak bencana hidrometeorologi di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat. Pemulihan menjadi bagian dari upaya mengembalikan mata pencaharian petani sekaligus menjaga produksi pangan di wilayah terdampak.

Reporter: Alfian Batubara
Sumber: waspadaaceh.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top