ACEH — Anak Gen Alpha yang berani membantah sering membuat ibu muda kebingungan menghadapi sikapnya. Pakar psikologi Universitas Muhammadiyah Malang membagikan lima cara mendidik anak Gen Alpha agar tidak suka melawan orang tua, lengkap dengan alasan di balik setiap pendekatan.
Perilaku anak Gen Alpha yang gemar membantah bukan muncul tiba-tiba karena label generasinya. Dr Siti Fatimah, M.Si, pakar psikologi sekaligus dosen Psikologi Universitas Muhammadiyah Malang, menjelaskan bahwa sikap melawan lebih dipengaruhi tahap tumbuh kembang dan lingkungan tempat anak dibesarkan.
Masa kanak-kanak memang fase penuh rasa ingin tahu. Anak senang mempertanyakan hal yang menurut mereka tidak masuk akal, tetapi kemampuan berpikir kritisnya belum sebanding dengan kemampuan mengendalikan impuls dan emosi.
"Berpikir kritis menuntut kemampuan memberikan alasan, mengevaluasi informasi, dan mempertimbangkan sudut pandang yang berbeda," jelas Siti, dikutip dari laman UMM.
Paparan media sosial jadi salah satu pemicu utama. Anak zaman sekarang terbiasa menonton video pendek, lalu meniru perilaku yang mereka lihat tanpa filter.
Kebiasaan meniru juga berlaku pada orang tua dan teman di sekitar. Anak yang melihat orang dewasa berdebat dengan nada tinggi akan menganggap cara itu wajar saat tidak setuju dengan sesuatu.
Karena itu, Siti menegaskan bahwa perilaku melawan tidak otomatis melekat pada generasi tertentu. Ada faktor tumbuh kembang, pola asuh, dan lingkungan yang saling memengaruhi.
Orang tua perlu memisahkan isi pendapat anak dari cara ia menyampaikannya. Beri ruang agar anak bisa menjelaskan alasan ketidaksetujuannya tanpa langsung dibungkam.
Kalau anak menyela atau memakai kata-kata kasar, arahkan dengan tenang. Yang dikoreksi adalah caranya berbicara, bukan keinginannya untuk berpendapat.
Anak Gen Alpha butuh pendekatan otoritatif yang memadukan kehangatan dan batasan. Orang tua tetap memberi ruang berpendapat, sekaligus menetapkan aturan yang tidak bisa ditawar.
Setiap aturan sebaiknya disertai alasan yang bisa dipahami anak. Dengan begitu, anak tahu batasan itu dibuat untuk kebaikannya, bukan sekadar larangan sepihak.
Emosi orang tua sering tersulut saat anak melontarkan kata-kata tak pantas. Reaksi keras justru memperburuk keadaan dan membuat anak makin defensif.
Siti menyarankan orang tua menegur dengan baik, lalu mengajak anak berdiskusi soal cara menyampaikan pendapat yang lebih sopan. Latihan ini membantu anak belajar mengelola emosinya sendiri.
"Tujuan pengasuhan bukan menjadikan anak selalu patuh tanpa berpikir, melainkan membantu anak memahami mengapa suatu aturan perlu dipatuhi," tegasnya.
Kalau berbagai pendekatan sudah dicoba tapi konflik terus berulang, jangan ragu mencari bantuan profesional. Psikolog bisa membantu memahami akar perilaku anak dan cara mendampinginya.
Konflik yang dibiarkan berlarut bisa mengganggu hubungan sosial anak dan semangat belajarnya di sekolah. Semakin cepat ditangani, semakin ringan dampaknya.
Mengubah kebiasaan anak yang suka melawan butuh waktu, bukan hasil instan dalam sehari. Orang tua perlu konsisten mendampingi tanpa kehilangan kesabaran.
"Jangan mendidik anak hanya agar berani berbicara, tetapi ajarkan juga kapan harus berbicara, bagaimana menyampaikan pendapat, dan kapan perlu mendengarkan," pungkas Siti.
Segera cari bantuan profesional jika anak sering meledak emosi, sulit diarahkan dalam waktu lama, atau konflik dengan orang tua mulai mengganggu aktivitas belajar dan pergaulannya. Konsultasi bukan tanda kegagalan orang tua, melainkan langkah untuk memahami anak lebih dalam.
Mendidik anak Gen Alpha bukan soal menekan keberaniannya berpendapat, tapi membimbingnya agar tahu cara menyampaikan pendapat dengan sopan. Mulai dari membedakan isi dan cara bicara, menetapkan aturan beralasan, hingga merespons dengan tenang, semua bisa diterapkan perlahan di rumah.