Pencarian

Perajin Dodol di Aceh Besar Berjuang Hadapi Kenaikan Harga Bahan Baku

Sabtu, 09 Mei 2026 • 12:26:45 WIB
Perajin Dodol di Aceh Besar Berjuang Hadapi Kenaikan Harga Bahan Baku
Perajin dodol di Gampong Lamlhom berjuang menghadapi kenaikan harga bahan baku utama.

JANTHO — Aroma khas dodol dan meuseukat masih mengepul dari dapur-dapur rumahan di Gampong Lamlhom, Kecamatan Lhoknga, Aceh Besar, Jumat (8/5/2026). Di tengah gempuran kuliner modern, para perempuan perajin di desa ini tetap setia mempertahankan resep warisan meskipun menghadapi tantangan ekonomi yang kian berat.

Kenaikan harga bahan baku utama seperti gula pasir dan tepung ketan menjadi kendala utama bagi keberlangsungan usaha mikro ini. Kondisi tersebut diperparah dengan tingginya biaya pengadaan santan kelapa yang menjadi komponen kunci dalam menentukan kualitas cita rasa dodol Aceh yang autentik.

Rosni (46), salah satu perajin setempat, mengungkapkan bahwa proses produksi kini menjadi jauh lebih menantang dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Keterbatasan peralatan pendukung membuat kapasitas produksi mereka tidak bisa berkembang pesat untuk menyasar pasar yang lebih luas.

Keluhan Perajin Terkait Keterbatasan Modal dan Alat

Hingga saat ini, para pelaku industri rumahan di Lamlhom mengaku masih mengandalkan modal mandiri dan peralatan seadanya. Rosni menyebutkan bahwa perhatian konkret berupa bantuan fisik maupun permodalan sangat dibutuhkan agar usaha mereka dapat naik kelas.

"Sampai sekarang kami belum pernah dapat bantuan usaha. Padahal kami butuh sekali perhatian untuk kembangkan home industry ini. Alat masih seadanya," ujar Rosni saat ditemui di rumah produksinya.

Ia berharap pemerintah daerah dapat memberikan dukungan nyata, baik melalui bantuan modal usaha maupun pendampingan teknis. Baginya, usaha ini bukan sekadar urusan mencari nafkah, melainkan upaya menjaga identitas budaya Aceh agar tidak hilang ditelan zaman.

Harga Jual Dodol dan Meuseukat di Pasar Lokal

Hal senada dirasakan oleh Yunidar (61), pemilik usaha Star Dodol Rumoh Kak Dar. Meski biaya produksi membengkak, ia tetap rutin memproduksi dodol, meuseukat, wajik, hingga keukarah untuk memenuhi pesanan masyarakat, terutama menjelang hari-hari besar keagamaan.

Dodol buatannya biasanya dijual dengan kisaran harga Rp320 ribu hingga Rp330 ribu per talam. Produk ini menjadi primadona untuk kebutuhan hajatan keluarga, kenduri adat, maupun hantaran perkawinan di wilayah Aceh Besar dan sekitarnya.

"Alhamdulillah masih ada yang pesan, apalagi kalau menjelang meugang atau hari raya," kata Yunidar. Konsistensi para perajin seperti Yunidar menjadi bukti bahwa minat masyarakat terhadap panganan tradisional tetap tinggi di tengah tren makanan instan.

Bagaimana Respons Pemerintah Kabupaten Aceh Besar?

Menanggapi aspirasi para perajin, Kepala Dinas Koperasi, Usaha Kecil Menengah dan Perdagangan (Diskopukmdag) Kabupaten Aceh Besar, Drs. Sulaimi, M.Si., mengeklaim pihaknya telah menjalankan program pembinaan di wilayah tersebut. Fokus utama program ini adalah penguatan kapasitas manajemen pelaku usaha.

Sulaimi menjelaskan bahwa pendampingan yang dilakukan selama ini mencakup aspek kualitas produk hingga pengelolaan keuangan. Dalam pelaksanaannya, dinas terkait juga menjalin kolaborasi dengan sektor swasta untuk menjangkau para pelaku UMKM di tingkat desa.

“Selama ini kami telah melakukan berbagai bentuk pembinaan dan pendampingan kepada pelaku home industri di Lamlhom, termasuk pelatihan manajemen keuangan yang dilaksanakan bekerja sama dengan PT SBA Lhoknga,” ujar Sulaimi.

Pemerintah daerah mengapresiasi keteguhan para perajin yang tetap menjaga cita rasa tradisional di tengah tekanan pasar. Keberadaan industri rumahan ini dinilai memberikan kontribusi nyata bagi pertumbuhan ekonomi lokal sekaligus menjaga nilai historis kuliner Aceh Besar.

Bagikan
Sumber: dialeksis.com

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Lainnya

Indeks

Berita Terkini

Indeks