ACEH SINGKIL — Puluhan buku yang dihibahkan pada Jumat (12/6/2026) itu terdiri dari dua judul. Pertama, “Komunikasi Efektif: Panduan Praktis Menjalin Hubungan dan Menyampaikan Pesan dengan Jelas”. Kedua, “Metode Koperasi Pertanian: Panduan Praktis & Teori untuk Pengembangan Koperasi”.
Kedua karya telah mengantongi lisensi Hak Kekayaan Intelektual (HKI) dari Direktorat Jenderal Kekayaan Intelektual (DJKI). Sertifikasi ini menjamin orisinalitas dan kualitas konten, berbeda dari buku cetak biasa tanpa verifikasi negara.
Mengapa Hibah Buku Berlisensi Penting untuk Daerah?
Bagi Aceh Singkil yang masih terus membangun ekosistem literasi, kehadiran buku berstandar nasional menjadi nilai tambah. Karya bersertifikat HKI umumnya melalui proses kurasi dan uji substansi yang ketat, sehingga minim risiko plagiarisme atau informasi keliru.
Rahmawan Cibro, akademisi yang menyerahkan langsung hibah, menyebut langkah ini sebagai wujud dedikasi akademik. “Saya berharap karya yang sudah berstandar HKI ini dapat dikelola dengan baik oleh Dinas Perpustakaan dan menjadi rujukan ilmu yang bermanfaat bagi publik,” ujarnya usai penyerahan.
Dua Sektor Strategis: Komunikasi dan Koperasi Pertanian
Pilihan dua tema itu tidak sembarangan. Buku komunikasi efektif menyasar kebutuhan soft skill bagi pegawai negeri, mahasiswa, dan aktivis organisasi masyarakat. Sementara buku koperasi pertanian relevan dengan basis ekonomi warga Aceh Singkil yang sebagian besar bergerak di sektor agraris.
“Metode Koperasi Pertanian” memadukan teori dan panduan praktis. Isinya membahas tata kelola, pembagian hasil, hingga strategi pengembangan usaha tani berbasis koperasi — topik yang kerap menjadi kendala di lapangan.
Target: Menjadi Pusat Referensi Kredibel
Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Daerah Kabupaten Aceh Singkil kini memiliki tambahan koleksi yang bisa diakses masyarakat umum. Dengan standar HKI, buku-buku ini berpotensi menjadi bahan ajar di perguruan tinggi atau pelatihan koperasi di daerah.
Pemerintah kabupaten selama ini terus mendorong peningkatan indeks literasi masyarakat. Data Dinas Pendidikan setempat menunjukkan minat baca di Aceh Singkil masih perlu ditingkatkan, terutama di kawasan pedalaman yang jauh dari akses toko buku.
Rahmawan berharap hibah ini memicu akademisi lain melakukan hal serupa. “Bukan sekadar seremonial. Saya ingin buku ini benar-benar dibaca dan dikaji,” pungkasnya.