PIDIE — Riuh warga memenuhi halaman Pidie Convention Center saat geudeu-geudeu dimainkan kembali. Sebagian berdiri mengelilingi arena, sebagian duduk di tepian. Pandangan mereka tertuju pada satu pertunjukan yang bagi sebagian orang merupakan pemandangan langka.
Pertunjukan tersebut menjadi bagian dari rangkaian Peuingat Uroe Lahee Pidie ke-515, atau hari lahir Kabupaten Pidie, yang digelar September 2026. Bagi warga yang pernah menyaksikannya pada masa lalu, geudeu-geudeu membuka kembali kenangan lama. Bagi yang belum pernah, permainan itu terasa asing.
Apa Itu Geudeu-Geudeu dan Kapan Biasanya Dimainkan?
Geudeu-geudeu merupakan salah satu adat dan budaya masyarakat Pidie pada masa terdahulu. Tradisi ini berkaitan erat dengan kehidupan masyarakat agraris, terutama setelah panen padi selesai.
Ketika sawah telah dipanen, warga punya ruang untuk berkumpul dan bersuka cita. Dalam suasana itu berbagai permainan rakyat ditampilkan, dan geudeu-geudeu menjadi salah satunya.
Dahulu, pertunjukan semacam ini tidak perlu dicari di panggung khusus. Ia hadir di tengah kehidupan masyarakat, disaksikan warga sebagai bagian dari kehidupan sosial mereka.
Mengapa Tradisi Ini Semakin Jarang Ditemui?
Perubahan gaya hidup dan perkembangan teknologi membuat permainan tradisional kehilangan ruang. Gawai mengambil sebagian besar waktu anak-anak dan remaja.
Permainan yang dahulu membutuhkan lapangan, teman bermain, dan interaksi langsung kini bersaing dengan permainan digital yang bisa dimainkan seorang diri. Perubahan zaman membuat banyak permainan dan adat istiadat lokal tidak lagi menjadi pilihan utama.
Selain geudeu-geudeu, ada pula meuen galah dan berbagai tradisi masyarakat Pidie lain yang pernah hidup dalam keseharian. Sebagian kini semakin jarang dimainkan.
Yang Hilang Bukan Sekadar Permainannya
Ketika sebuah permainan tradisional hilang, yang hilang bukan hanya bentuk permainannya. Di dalamnya terdapat nilai kebersamaan, cara masyarakat berinteraksi, sejarah, bahasa, simbol, serta cerita yang diwariskan antargenerasi.
Di sinilah persoalan pelestarian budaya menjadi lebih besar. Yang dipertaruhkan adalah ingatan kolektif masyarakat Pidie.
Uroe Lahee Pidie sebagai Ruang Mengingat
Pemerintah Kabupaten Pidie di bawah kepemimpinan Bupati Sarjani Abdullah membawa unsur adat dan budaya daerah ke dalam rangkaian peringatan hari lahir Pidie.
Peringatan hari jadi daerah tidak hanya berbicara soal pemerintahan, pembangunan, atau capaian ekonomi. Ada sejarah panjang yang membentuk identitas masyarakat Pidie, mulai dari bahasa, adat, kesenian, permainan rakyat, hingga tradisi masyarakat.
Dengan menghadirkan geudeu-geudeu, warga diajak melihat bahwa sejarah daerah tidak hanya tersimpan dalam buku. Sejarah juga hidup dalam gerakan para pemain, sorak penonton, cerita orang tua, serta ingatan orang-orang yang pernah menyaksikannya.
Antusiasme Warga di Arena PCC
Di arena PCC, warga tampak antusias mengikuti jalannya pertunjukan. Ada yang datang bersama keluarga. Ada pula anak-anak muda yang berdiri di antara kerumunan, mengikuti permainan dengan rasa ingin tahu.
Tidak semua generasi muda Pidie mengetahui bahwa daerah mereka memiliki beragam adat dan permainan tradisional. Geudeu-geudeu hanyalah salah satu di antaranya.
Bagi mereka, pertunjukan itu bukan sekadar permainan. Ada sesuatu yang sedang diperkenalkan kembali.
Ketika geudeu-geudeu kembali dimainkan di tengah keramaian peringatan Uroe Lahee Pidie, pertunjukan tersebut tidak sekadar menjadi hiburan. Ia menjadi semacam perjalanan pulang.