Manggarai – Pohon kelapa yang tumbang, rumah warga yang rata dengan tanah, serta infrastruktur jalan yang retak dan terputus menjadi potret kelam pascagempa yang mengguncang Pulau Flores. Di tengah situasi itu, prioritas utama pemerintah adalah memulihkan konektivitas antarwilayah hanya dalam hitungan hari, bukan bulan.
Menteri Pekerjaan Umum (PU) Dody Hanggodo langsung mengambil langkah tegas dengan menginstruksikan percepatan rehabilitasi dua akses vital di Nusa Tenggara Timur. Kedua titik tersebut adalah Jembatan Wae Pesi di Kabupaten Manggarai serta Jembatan Wae Dampek yang berada di Kabupaten Manggarai Timur. Peninjauan langsung dilakukan sang menteri pada Jumat (28/8/2026), bukan sekadar untuk memastikan proses perbaikan, tetapi juga memastikan kedua jembatan tersebut nantinya sanggup bertahan dari guncangan susulan.
“Wae Pesi ini secara keseluruhan terdampak paling parah. Kita berusaha merehabilitasi dengan cepat. Saat ini sedang mendatangkan alat dari Jakarta. Mudah-mudahan paling lambat pertengahan September kita sudah mulai melakukan rehabilitasi,” kata Menteri Dody.
Menteri Dody menegaskan bahwa kecepatan penanganan bukan berarti mengorbankan mutu. Pasalnya, masyarakat yang terdampak sangat bergantung pada kembalinya fungsi jalur transportasi untuk memulihkan roda ekonomi dan mobilitas harian.
“Yang menjadi porsi kita harus kita kerjakan secepat-cepatnya. Dengan kualitas harus lebih bagus lagi dan berkarakter lebih tahan terhadap gempa,” ujar Dody Hanggodo.
Peran Krusial Jembatan Wae Pesi bagi Distribusi BBM
Jembatan Wae Pesi yang berada pada ruas Ruteng–Reo–Kedindi menjadi salah satu titik yang mendapat perhatian khusus karena akses jalan tersebut terhubung langsung dengan Pelabuhan Reo yang memiliki depo Pertamina untuk distribusi Bahan Bakar Minyak (BBM). Putusnya jembatan ini berpotensi menghambat pasokan energi ke sejumlah daerah di Pulau Flores.
Berdasarkan hasil pemeriksaan BPJN NTT, kerusakan yang teridentifikasi meliputi retakan pada oprit jembatan, expansion joint, serta bagian daerah aliran sungai (DAS).
Untuk mempercepat penanganan, peralatan didatangkan dari Jakarta dan saat ini dalam perjalanan. Rehabilitasi ditargetkan mulai dilakukan paling lambat pertengahan September 2026 sehingga fungsi jembatan dapat segera dipulihkan dan gangguan perjalanan masyarakat pada jalur tersebut tidak berlangsung lama.
Pemeriksaan Langsung Jembatan Wae Dampek
Usai menuntaskan tinjauan di Manggarai, Menteri Dody melanjutkan kunjungan kerja ke Jembatan Wae Dampek yang membentang di Sungai Wae Laing, Kabupaten Manggarai Timur. Jembatan sepanjang 60 meter dengan tipe rangka baja tersebut berada pada ruas Wae Gongger–Batas Kabupaten Manggarai–Pota.
Ia meninjau kondisi oprit dan turun langsung ke bagian bawah jembatan untuk melihat kondisi struktur sekaligus memastikan penanganannya dilakukan secara tepat.
Kondisi geologis Flores yang masuk dalam zona rawan gempa menjadi pertimbangan serius dalam setiap langkah renovasi. Menteri PU Dody meminta pemulihan kedua jembatan dilakukan dengan memperhatikan karakter wilayah Flores yang memiliki risiko gempa. Menurutnya, prinsip build back better perlu diterapkan agar infrastruktur yang dipulihkan tidak sekadar kembali berfungsi, tetapi memiliki kualitas dan ketahanan yang lebih baik terhadap risiko bencana.
“Ini adalah daerah gempa. Jadi bangunannya harus bisa menyesuaikan diri dengan kondisi alamnya. Prinsipnya kita harus membangun dengan lebih baik lagi, tetapi dengan lebih cepat,” kata Dody Hanggodo.
Skala dampak bencana ini tidak bisa dianggap remeh. Secara keseluruhan, berdasarkan data 20 Agustus 2026, gempa yang melanda Pulau Flores berdampak pada 11 ruas jalan nasional, dengan 64 titik longsoran, 7 titik patahan badan jalan, serta 14 unit jembatan dan deuker.
BPJN NTT telah memobilisasi 12 unit excavator serta 4 unit loader untuk pemulihan akses, serta memobilisasi jembatan Bailey dari NTB, Bali, dan Sulawesi Selatan. Kementerian PU memastikan seluruh ruas jalan nasional di Pulau Flores saat ini dapat dilalui kendaraan secara fungsional.