BANDA ACEH — Kebutuhan tenaga kerja terampil di bidang teknologi digital di Aceh kian mendesak, sementara kurikulum sekolah kerap tertinggal dari kebutuhan industri. SMKN 5 Telkom Banda Aceh mencoba menjembatani kesenjangan itu dengan menggandeng iCON+, anak usaha PT Telkom Indonesia, melalui program kelas industri.
Kerja sama ini tidak berhenti pada penandatanganan nota kesepahaman. iCON+ disebut akan menghadirkan perangkat, modul ajar, hingga tenaga pengajar dari praktisi industri ke dalam kelas. Siswa tidak hanya belajar teori jaringan dan infrastruktur telekomunikasi, tetapi juga praktik langsung dengan peralatan yang digunakan di lapangan.
“Kami ingin lulusan SMK tidak lagi perlu pelatihan ulang saat masuk dunia kerja. Mereka sudah siap dari bangku sekolah,” ujar perwakilan dari pihak sekolah dalam keterangan yang diterima media.
Aceh selama ini dikenal sebagai daerah dengan potensi besar di sektor telekomunikasi dan digital, namun serapan tenaga kerja lokal di bidang ini masih rendah. Banyak perusahaan teknologi yang beroperasi di Banda Aceh justru merekrut tenaga kerja dari luar provinsi karena minimnya ketersediaan talenta lokal yang sesuai standar industri.
Kelas industri ini diharapkan menjadi model yang bisa direplikasi oleh SMK lain di Aceh. Jika berhasil, bukan tidak mungkin dalam lima tahun ke depan, Aceh bisa menjadi salah satu pemasok tenaga kerja digital untuk kawasan Sumatera.
Program kelas industri sebenarnya sudah berjalan di beberapa SMK di Pulau Jawa, seperti SMK Telkom Malang dan SMK Telkom Jakarta. Namun, di Aceh, program ini terbilang baru dan menjadi uji coba bagi iCON+ untuk memperluas jangkauan pembinaan SDM digital ke wilayah timur Indonesia.
Perbedaannya, di Aceh tantangannya lebih besar. Selain infrastruktur internet yang belum merata di seluruh provinsi, kesadaran orang tua dan siswa terhadap prospek karier di bidang teknologi digital juga masih perlu ditingkatkan.
Pihak sekolah menargetkan kelas industri ini bisa mulai beroperasi penuh pada tahun ajaran mendatang. Saat ini, persiapan masih berfokus pada penyelarasan kurikulum dan pelatihan guru agar mampu mengajar dengan metode dan materi yang disesuaikan dengan kebutuhan iCON+.
Jika semua berjalan lancar, siswa yang lulus dari kelas ini akan mendapat sertifikat kompetensi yang diakui oleh industri telekomunikasi nasional. Ini menjadi nilai tambah yang tidak bisa diperoleh dari pembelajaran reguler di kelas biasa.