Pencarian

Google Borong Seluruh Listrik PLTS Raksasa 1,6 GW demi Imbangi Emisi Data Center AI

Selasa, 14 Juli 2026 • 18:49:31 WIB
Google Borong Seluruh Listrik PLTS Raksasa 1,6 GW demi Imbangi Emisi Data Center AI
Google borong seluruh kapasitas awal PLTS raksasa 1,6 GW di Arkansas untuk mengimbangi emisi pusat data AI.

ACEH — Lonjakan konsumsi listrik pusat data Google yang mencapai 37 persen tahun lalu memaksa perusahaan mencari cara untuk menetralisir emisi gas rumah kacanya. Alih-alih memasok listrik langsung ke server mereka, Google memilih untuk membeli seluruh kapasitas awal dari proyek tenaga surya raksasa di Arkansas, Amerika Serikat, yang baru akan beroperasi pada 2029.

Detail Proyek dan Skema Pembelian

Proyek yang diberi nama Steel River Energy Center ini akan memiliki total kapasitas 2,45 GW untuk panel surya dan 2,9 GWh untuk penyimpanan baterai. Fase pertama dan kedua proyek ini telah mendapatkan pendanaan sebesar 3,5 miliar dolar AS (sekitar Rp 57,75 triliun).

Dalam kesepakatan yang dilaporkan oleh Financial Times, Google akan membayar biaya tetap untuk listrik yang dihasilkan. Kapasitas awal yang diborong Google adalah 1,6 GW tenaga surya dan 2 GW baterai, jumlah yang disebut cukup untuk mensuplai 315.000 rumah. Listrik ini tidak akan langsung dialirkan ke kantor atau pusat data Google, melainkan dijual ke jaringan listrik umum (grid).

Google kemudian akan menarik listrik dari grid yang sama—yang sumbernya campuran batu bara, nuklir, gas alam, dan energi terbarukan—serta dari pembangkit listrik cadangan mereka sendiri yang biasanya menggunakan turbin gas. Artinya, kontribusi Google terhadap emisi karbon di suatu wilayah secara teknis akan "diimbangi" oleh energi bersih yang mereka suntikkan ke jaringan tersebut.

Lonjakan Emisi Akibat AI Makin Sulit Dikendalikan

Kenaikan konsumsi listrik Google sebesar 37 persen pada tahun lalu berbanding lurus dengan kenaikan emisi grid-nya. Fenomena serupa dialami oleh raksasa teknologi lain seperti Meta dan Amazon, yang pusat datanya kini harus bekerja ekstra keras untuk menjalankan model AI generatif.

Sebagian besar pasokan listrik tambahan itu masih berasal dari bahan bakar fosil. Kondisi ini mendorong para pegiat lingkungan untuk mempertanyakan efektivitas program pembelian energi terbarukan yang dilakukan oleh perusahaan teknologi. Mereka menilai skema ini lebih mirip pembelian "sertifikat hijau" ketimbang solusi nyata pengurangan emisi.

Langkah Serupa dari Meta dan Amazon

Google bukan satu-satunya pemain besar yang mengambil jalur ini. Meta baru saja membeli seluruh output listrik (200 MW) dari PLTS lain di Texas. Sementara Amazon juga menyetujui pembelian proyek tenaga surya dan baterai Sunstone yang sempat bermasalah di Oregon, dengan kapasitas mencapai 1,2 GW.

Praktik ini memungkinkan perusahaan teknologi untuk mengklaim penggunaan energi terbarukan 100 persen dalam laporan keberlanjutan mereka, meskipun secara fisik listrik yang mereka konsumsi langsung dari grid masih bercampur dengan energi fosil.

Dampak Iklim yang Semakin Nyata

Di tengah perdebatan ini, dampak perubahan iklim kian terasa. Para ilmuwan baru-baru ini menyatakan bahwa gelombang panas ekstrem yang melanda Eropa pada musim panas lalu "hampir mustahil" terjadi tanpa adanya perubahan iklim yang dipicu oleh emisi gas rumah kaca. Kontribusi sektor teknologi terhadap emisi global pun menjadi sorotan yang tak bisa diabaikan.

Proyek Steel River sendiri diprioritaskan menggunakan baja dan panel surya buatan Amerika Serikat, yang menjadi nilai tambah secara politik dan ekonomi bagi pemerintahan setempat. Namun, efektivitas jangka panjang dari strategi "beli energi bersih, pakai energi kotor" ini masih menjadi tanda tanya besar bagi masa depan bumi.

Bagikan
Sumber: engadget.com

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Lainnya

Indeks

Berita Terkini

Indeks