Rupiah Tembus Level Terlemah, Dolar AS Dijual di Atas Rp17.800 di Pasar Non-Tunai

Penulis: Ricki Manurung  •  Rabu, 27 Mei 2026 | 11:12:01 WIB
Rupiah melemah tembus level Rp17.800 di pasar non-tunai seiring penguatan dolar AS.

ACEH — Tekanan terhadap rupiah semakin intensif di tengah penguatan indeks dolar AS yang didorong oleh data ekonomi Amerika yang lebih kuat dari perkiraan. Pasar NDF, yang menjadi acuan bagi pelaku bisnis dan investor asing, menunjukkan aksi jual besar-besaran terhadap rupiah sejak sesi perdagangan Asia dimulai. Level psikologis Rp17.500 yang sempat bertahan beberapa pekan terakhir akhirnya jebol.

Akar Masalah: Dolar Perkasa di Tengah Ketidakpastian Global

Pemicu utama depresiasi rupiah adalah ekspektasi pasar bahwa Federal Reserve (The Fed) akan mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama. Data inflasi dan tenaga kerja AS yang masih ketat membuat peluang pemangkasan suku bunga The Fed pada semester pertama 2025 semakin kecil. Imbal hasil obligasi pemerintah AS (US Treasury) tenor 10 tahun pun melonjak, menarik aliran modal keluar dari pasar negara berkembang, termasuk Indonesia.

Di sisi domestik, sentimen juga tidak mendukung. Data neraca perdagangan Indonesia yang mencatatkan tren penurunan surplus dalam beberapa bulan terakhir membuat investor asing ragu. "Pasar sedang menguji batas bawah toleransi Bank Indonesia," ujar analis dari sebuah sekuritas asing di Jakarta. "Jika cadangan devisa tidak cukup untuk melakukan intervensi signifikan, rupiah berpotensi bergerak ke level Rp18.000 di pasar spot."

Dampak ke Investor dan Pelaku Bisnis: Biaya Impor Membengkak

Bagi pelaku bisnis yang memiliki utang dalam denominasi dolar AS, pelemahan rupiah ini menjadi pukulan berat. Beban pembayaran pokok dan bunga utang otomatis membengkak dalam hitungan rupiah. Sektor yang paling terpukul adalah perusahaan penerbangan, manufaktur yang bergantung pada bahan baku impor, dan perusahaan tambang yang memiliki pinjaman luar negeri.

Sementara itu, investor di pasar saham dan obligasi juga bereaksi negatif. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diperkirakan akan tertekan pada sesi perdagangan hari ini, terutama saham-saham yang sensitif terhadap kurs seperti perbankan dan properti. Investor asing cenderung melakukan aksi jual (net sell) untuk mengamankan nilai aset mereka dari kerugian kurs.

Bagaimana Respons Bank Indonesia?

Bank Indonesia (BI) biasanya akan melakukan intervensi ganda (dual intervention) di pasar spot dan pasar obligasi untuk menstabilkan rupiah. Namun, efektivitas intervensi ini sangat bergantung pada besarnya cadangan devisa yang dimiliki. Pasar menunggu pernyataan resmi dari Gubernur BI terkait langkah-langkah yang akan diambil untuk meredam volatilitas.

Keputusan BI untuk mempertahankan suku bunga acuan di level tinggi beberapa waktu lalu menunjukkan prioritas bank sentral saat ini adalah stabilitas nilai tukar, bukan mendorong pertumbuhan. Dengan rupiah yang sudah tembus di atas Rp17.500, tekanan terhadap BI untuk menaikkan suku bunga acuan kembali di Rapat Dewan Gubernur mendatang semakin besar.

Reporter: Ricki Manurung
Sumber: cnbcindonesia.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top