BANDA ACEH — Suasana kebersamaan mewarnai perayaan Idul Adha di Rutan Kelas IIB Banda Aceh. Tidak seperti hari-hari biasa yang penuh dengan rutinitas, Jumat (29/5/2026) lalu, blok hunian berubah menjadi ruang makan bersama yang hangat. Warga binaan dan petugas duduk berdampingan, menyantap kuah beulangong—masakan khas Aceh berbahan dasar daging kurban.
Daging hewan kurban yang disembelih di lingkungan rutan diolah secara gotong royong oleh warga binaan dan petugas. Proses memasak hingga penyajian dilakukan bersama di area blok hunian, menciptakan suasana kekeluargaan yang jarang terlihat di dalam tembok penjara.
Momen Idul Adha untuk Mempererat Silaturahmi
Kepala Rutan Kelas IIB Banda Aceh, Hari Kurniawan, mengatakan kegiatan ini bukan sekadar acara makan-makan. Menurutnya, momen Idul Adha dimaknai sebagai sarana memperkuat nilai persaudaraan dan kebersamaan di lingkungan pemasyarakatan.
"Kami ingin menghadirkan suasana Idul Adha yang hangat di dalam Rutan. Melalui makan bersama ini diharapkan tercipta hubungan yang harmonis antara petugas dan warga binaan," ujar Hari Kurniawan.
Warga binaan tampak antusias mengikuti kegiatan tersebut. Bagi mereka, momen sederhana ini menjadi pengingat bahwa di balik jeruji besi, nilai-nilai kekeluargaan dan kebersamaan tetap bisa dirawat.
Pembinaan Humanis di Lingkungan Rutan
Kegiatan ini merupakan bagian dari upaya Rutan Banda Aceh menghadirkan pembinaan yang humanis. Dengan pendekatan seperti ini, pihak rutan berharap tercipta lingkungan pemasyarakatan yang aman, tertib, dan penuh nilai kebersamaan.
Kuah beulangong sendiri dipilih karena merupakan hidangan khas Aceh yang lekat dengan tradisi gotong royong. Hidangan ini biasanya disajikan dalam acara-acara besar dan menjadi simbol kebersamaan masyarakat Aceh.
Momen Idul Adha tahun ini menjadi bukti bahwa perayaan keagamaan bisa dirayakan dengan penuh makna, bahkan di tempat yang serba terbatas sekalipun. Warga binaan tidak hanya mendapatkan daging kurban, tetapi juga pengalaman berharga tentang arti kebersamaan.