ACEH — Inovasi pengelolaan limbah ini lahir dari program bernama Appostraps (Alat Pemecah, Peredam Ombak, dan Sedimen Traps). Ratusan ban bekas yang sudah tidak layak pakai disusun menjadi konstruksi sederhana di garis pantai. Tujuannya: meredam energi gelombang laut dan menahan sedimentasi secara alami.
Program tersebut telah berjalan di Teluk Kabung Tengah (Kota Padang), Balikpapan, dan Desa Tokorondo di Kabupaten Poso, Sulawesi Tengah. Setiap lokasi menggunakan ratusan ban bekas yang ditata menjadi benteng mini.
Selain Appostraps, EPN memiliki program unggulan bernama Hutan Petrofin. Sejak 2022, perusahaan telah menanam lebih dari 13 ribu pohon yang terdiri dari trembesi, mangrove, bambu, dan tanaman produktif lainnya. Pemilihan jenis pohon ini tidak sembarangan. Trembesi dipilih karena kemampuannya menyerap karbon tinggi, mangrove untuk menjaga ekosistem pesisir dan menyimpan karbon biru, sementara bambu berfungsi mencegah erosi dan memperbaiki kualitas lahan.
Berdasarkan perhitungan internal perusahaan, seluruh program penghijauan ini berpotensi mereduksi emisi hingga 127,6 ton CO2 equivalent. Angka ini memang belum mampu mengimbangi seluruh emisi operasional perusahaan distribusi energi berskala nasional. Namun, langkah ini menjadi bagian dari strategi keberlanjutan jangka panjang.
EPN juga mendorong keterlibatan masyarakat lewat Gerakan Wisata Bersih di Pantai Karang Ria, Manado. Dalam kegiatan itu, perusahaan memperkenalkan program ASIAP (Armada Transportasi Sampah Desa Sapa Raya). Sistem pengelolaan sampah berbasis masyarakat ini mengubah sampah anorganik menjadi produk yang memiliki nilai ekonomi.
Nilai keberlanjutan bahkan merambah ke kegiatan keagamaan. Pada program Petrofin Berkurban, distribusi daging kurban dilakukan menggunakan wadah yang dapat digunakan kembali. Langkah sederhana ini menjadi bagian dari kampanye pengurangan plastik sekali pakai yang konsisten diterapkan perusahaan.
Di tengah target Net Zero Emission Indonesia 2060, pendekatan ekonomi sirkular yang dijalankan Elnusa Petrofin menunjukkan bahwa sektor energi memiliki ruang untuk berinovasi. Perubahan tidak selalu dimulai dari proyek besar bernilai miliaran rupiah—kadang justru lahir dari barang yang selama ini dianggap tidak berguna.