BANDA ACEH — Pameran “Hands of Time” menghadirkan lebih dari sekadar benda bersejarah. Koleksi yang dipajang, seperti minyak nilam, koin emas, rencong, siwah, ukiran kayu, hingga benang sutera, menunjukkan bagaimana masyarakat Aceh mengolah hasil alam menjadi komoditas bernilai ekonomi tinggi sekaligus simbol identitas budaya.
Museum Aceh dalam keterangannya menegaskan bahwa sejarah daerah ini tidak hanya dibentuk oleh kekuasaan dan peperangan, melainkan juga oleh tangan-tangan terampil warganya. Pameran ini dirancang untuk menjadi ruang edukasi yang mengungkap sisi lain peradaban Aceh: kemakmuran yang lahir dari keterampilan mengolah sumber daya alam.
Salah satu koleksi yang paling menyedot perhatian pengunjung adalah perhiasan emas peninggalan masa lampau. Beragam kalung, gelang, cincin, hingga aksesori tradisional dipajang dalam etalase khusus, memperlihatkan detail ukiran dan tingkat kemahiran perajin masa itu.
“Kalau melihat koleksi emas ini, saya jadi membayangkan Aceh dulu sangat kaya. Perhiasannya indah dan detail, menunjukkan bahwa masyarakat saat itu memiliki keterampilan tinggi sekaligus kehidupan yang makmur,” kata Elza, salah seorang pengunjung, saat ditemui di lokasi pameran.
Elza menilai pameran ini memberi pengalaman baru untuk mengenal sejarah Aceh dari sisi yang berbeda. Selama ini, kata dia, sejarah Aceh lebih banyak dikenal melalui kisah kerajaan dan peperangan. Padahal, masih banyak peninggalan budaya yang menunjukkan kemajuan peradaban masyarakatnya, terutama di bidang ekonomi dan seni.
Pameran “Hands of Time” terbuka untuk umum di Gedung Pameran Temporer Lantai 2 Museum Aceh. Pihak museum berharap pameran ini bisa menjadi ruang belajar bagi generasi muda untuk memahami perjalanan sejarah dan kekayaan budaya Aceh secara lebih utuh.