BANDA ACEH — Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Meuraxa Banda Aceh memperkuat posisinya sebagai pusat layanan jantung di Provinsi Aceh dengan menghadirkan teknologi terbaru di ruang Catheterization Laboratory (Cathlab). Alat bernama Vivo Cardio CPM System itu disebut mampu mengukur tekanan dan aliran darah pada pembuluh koroner secara lebih presisi dibanding metode konvensional.
Vivo Cardio CPM System dilengkapi fitur Fractional Flow Reserve (FFR) yang memberikan data fisiologis fungsi aliran darah jantung. Hasilnya, dokter bisa membedakan apakah penyempitan pembuluh benar-benar kritis dan membutuhkan pemasangan stent, atau masih bisa ditangani dengan obat-obatan. Selama ini, keputusan semacam itu sering kali mengandalkan estimasi visual dari gambar angiografi yang rentan subjektivitas.
“Dengan hadirnya Vivo Cardio CPM System, pemeriksaan pembuluh darah jantung dapat dilakukan lebih akurat sehingga dokter dapat menentukan terapi yang paling tepat bagi pasien,” kata Pelaksana Tugas (Plt) Direktur RSUD Meuraxa, dr. Taufik Wahyudi Mahady, Sp.OG, MHPM, dalam keterangan yang diterima MASAKINI.CO.
Kehadiran alat ini langsung menjawab keluhan klasik pasien jantung di Aceh: antrean panjang rujukan ke luar provinsi. Selama bertahun-tahun, pasien dengan kasus penyempitan koroner yang kompleks harus dirujuk ke rumah sakit di Medan, Jakarta, atau bahkan Surabaya untuk menjalani pemeriksaan FFR. Biaya transportasi dan akomodasi menjadi beban tambahan di luar biaya medis.
“Kami ingin masyarakat Aceh mendapatkan pelayanan jantung yang lengkap di daerah sendiri. Pasien tidak perlu lagi harus keluar Aceh untuk pemeriksaan tertentu karena fasilitas dan tenaga medis terus kami perkuat,” ujar Taufik.
Perangkat tersebut juga dilengkapi layar sentuh 12 inci, kapasitas penyimpanan data besar, serta perangkat lunak analisis yang memungkinkan dokter meninjau ulang hasil pemeriksaan. Kombinasi ini mempercepat proses