BANDA ACEH — Rencana rehabilitasi Meuligoe Wali Nanggroe di Aceh memicu perdebatan sengit di ruang publik. Di linimasa media sosial, warganet membandingkannya dengan lambatnya pemulihan infrastruktur dasar pascabanjir besar yang terjadi delapan bulan lalu.
"Saya membaca satu per satu komentar warga. Ada yang mendukung. Ada yang menganggapnya sebagai bagian dari pelestarian warisan sejarah Aceh. Namun lebih banyak lagi yang bertanya dengan nada sederhana, tanpa kemarahan, tetapi penuh kegelisahan," tulis Fajri, Kepala Sekolah dan pegiat literasi, dalam catatan yang beredar luas.
Fajri mencontohkan kondisi di Jembatan Bailey Kutablang, Bireuen. Dalam perjalanan pulang kampung beberapa pekan lalu, ia mengaku menghabiskan hampir tiga jam hanya untuk melewati satu jembatan darurat. Kendaraan mengular, mesin dimatikan, dan pengendara turun membeli dagangan asongan.
"Di tengah antrean itu saya justru berpikir, ternyata bencana tidak berakhir ketika air surut. Ia baru berakhir ketika masyarakat dapat kembali menjalani hidup secara normal," ujarnya.
Kondisi serupa terjadi di banyak titik. Lumpur masih mengendap di halaman rumah warga. Sawah belum kembali produktif. Jalan-jalan utama masih menunggu perbaikan, dan aktivitas ekonomi di sejumlah pasar belum pulih sepenuhnya.
Fajri menekankan bahwa masyarakat tidak menolak rehabilitasi Meuligoe. Justru sebaliknya, warga memahami nilai historis dan simbolis bangunan tersebut bagi identitas Aceh. Namun, dalam ilmu kebijakan publik, ketika sumber daya terbatas, pemerintah dituntut memilih kebutuhan yang paling mendesak.
"Bukankah rumah pertama yang harus dibangun setelah bencana adalah rumah rakyat? Bukankah jembatan pertama yang harus selesai adalah jembatan yang setiap hari dilalui rakyat?" tulisnya dalam catatan yang dikutip dari SAGOE TV.
Ia mengingatkan pengalaman Aceh pascatsunami 2004. Saat itu, yang dibangun pertama kali bukan gedung pemerintahan, melainkan rumah warga, jalan, sekolah, dan pelabuhan. Dunia membantu karena pusat perhatian adalah pemulihan kehidupan manusia.
Fajri menyebut, bagi masyarakat yang masih terluka oleh dampak banjir, tidak penting kapan sebuah meuligoe selesai diperbaiki. Yang lebih penting adalah kapan anak-anak bisa berangkat sekolah tanpa mengantre berjam-jam di jembatan darurat, kapan sawah bersih dari lumpur, dan kapan harapan benar-benar pulih.
"Dalam setiap bencana, yang paling membutuhkan rehabilitasi bukanlah bangunan. Melainkan harapan. Dan harapan itu selalu tumbuh ketika rakyat merasa bahwa mereka adalah prioritas utama," pungkasnya.