Bupati Nagan Raya, Teuku Raja Keumangan yang akrab disapa TRK, menegaskan bahwa festival ini memiliki makna lebih dari sekadar perayaan ulang tahun. Menurutnya, kuliner tradisional seperti Kue Karah adalah identitas dan sejarah yang harus dijaga.
“Kuliner tradisional bukan sekadar makanan yang mengenyangkan. Ia adalah identitas, sejarah, dan napas budaya yang harus kita pelihara, lalu wariskan utuh kepada generasi mendatang,” ujarnya di hadapan awak media.
TRK menambahkan, Nagan Raya menyimpan kekayaan rempah dan cita rasa yang luar biasa. Ia optimistis potensi ini bisa melangkah jauh hingga dikenal secara nasional bahkan internasional. Kue Karah sendiri, menurutnya, menempati tempat istimewa di hati warga karena gurih di lidah dan selalu menjadi pilihan utama untuk berbagai acara penting maupun kebutuhan sehari-hari.
Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Nagan Raya, Teuku Barliansyah, mengatakan bahwa festival ini dirancang sebagai ruang edukasi sekaligus panggung promosi budaya. Ia ingin memastikan seni membuat kue karah tidak hilang ditelan zaman.
“Kami ingin memastikan seni membuat kue karah tak hilang ditelan zaman, bisa diwariskan dengan benar, sekaligus tumbuh menjadi produk bernilai ekonomi tinggi yang mampu menarik kunjungan wisatawan,” jelas Barliansyah.
Kehadiran ratusan peserta dari sembilan kecamatan menjadi bukti bahwa kecintaan terhadap warisan kuliner Nagan Raya masih sangat kuat. Lewat keahlian tangan dan rahasia bumbu masing-masing, mereka berjuang menjaga kelezatan Kue Karah tetap abadi.
Melalui festival ini, pemerintah daerah ingin menjadikan momen tersebut sebagai titik tolak pelestarian yang lebih kuat. TRK berharap, kekayaan gastronomi Nagan Raya bisa membuka mata dunia.
“Melalui festival ini, kami ingin menjadikan momen sebagai titik tolak pelestarian yang lebih kuat, sekaligus membuka mata dunia akan kekayaan gastronomi yang dimiliki tanah ini,” tambahnya.