ACEH — Jakarta — Indonesia memainkan peran ganda di pasar batu bara global pada semester I 2026. Di satu sisi, volume ekspor batu bara nasional turun akibat kebijakan pengetatan pemerintah. Di sisi lain, impor batu bara metalurgi melonjak tajam karena kebutuhan industri pengolahan nikel dan aluminium yang terus bertumbuh.
Analisis Bombay Strategy dalam laporan "H1 2026 Global Coal Imports" menunjukkan, impor batu bara metalurgi, kokas, dan antrasit global naik 4,4% menjadi 157,3 juta ton. Angka ini kontras dengan batu bara termal yang justru terkontraksi 0,9%.
Industri Nikel dan Aluminium Jadi Mesin Pendorong
Hozefa Merchant, pendiri Bombay Strategy, menjelaskan bahwa lonjakan impor batu bara metalurgi tidak berasal dari sektor baja. Produksi baja dunia bahkan turun 0,7% pada periode yang sama. Pertumbuhan ini justru didorong oleh ekspansi kapasitas industri pengolahan nikel serta aluminium di Indonesia.
"Ambisi Indonesia di sektor ini semakin nyata dengan adanya akuisisi portofolio tambang Anglo-American di Queensland, Australia, oleh perusahaan yang berbasis di Indonesia dan terdaftar di Inggris. Ini menandakan strategi jangka panjang untuk mengamankan rantai pasok industri dalam negeri," ujar Hozefa dalam keterangannya, Selasa (8/9).
Faktor lain yang memicu kenaikan impor adalah guncangan pasokan domestik di China dan penghapusan kuota impor kokas metalurgi di India. Kombinasi ketiga faktor ini menciptakan permintaan baru yang tidak terkait dengan produksi baja dunia.
Kontribusi Indonesia Capai 97,6% dari Total Kenaikan
Data Bombay Strategy mencatat, dari total tambahan 8,9 juta ton impor batu bara metalurgi pada Juni 2026, Indonesia menyumbang 6,1 juta ton dan Australia 2,5 juta ton. Kedua negara ini berkontribusi 97,6% dari total kenaikan bulanan tersebut.
Vishad Sharma, Public Policy and Communications Professional Bombay Strategy, menilai angka tersebut merupakan pemulihan dari volume muat tahun 2025 yang tertekan, bukan indikasi permintaan baru yang kuat. "Ke depan, diperkirakan permintaan batu bara global akan stagnan hingga akhir tahun 2026," katanya.
Meskipun Vietnam dan India menunjukkan potensi pertumbuhan impor, volumenya diprediksi tidak mampu mengimbangi kontraksi pasar China. Pemulihan produksi domestik China di paruh kedua tahun ini diperkirakan akan menekan kebutuhan impor mereka.
Kebijakan Ekspor RI dan Dampaknya ke Pasar Global
Pemerintah Indonesia menerapkan kebijakan pengetatan ekspor batu bara pada Maret-Juni 2026. Impor batu bara termal global pun turun 1,7%, dengan kawasan Asia yang menguasai 88,6% volume termal dunia anjlok 3,6%.
Eropa yang terdampak gangguan pasokan gas alam cair (LNG) dari Qatar justru tidak beralih ke batu bara. Kawasan ini mencatatkan penurunan impor termal terbesar, mencapai 11,1% secara tahunan.
Sementara itu, impor batu bara metalurgi Eropa memang naik tipis antara 2025 dan 2026. Namun volumenya masih jauh di bawah puncak tahun 2018 dan 2022. Tren penurunan diperkirakan berlanjut seiring rencana pensiun dini kapasitas tanur tiup Uni Eropa pada 2035.
Vishad menambahkan, dinamika regional menunjukkan masa depan pasar batu bara akan sangat ditentukan oleh kebijakan industri di Asia, khususnya Indonesia dan China. Permintaan struktural dari Eropa dan Amerika Selatan justru melemah, memperkuat proyeksi bahwa pertumbuhan pasar hanya akan bertumpu pada kawasan Asia.