ACEH — Angka itu menjadi suhu maksimum tertinggi yang tercatat BMKG sepanjang periode tersebut. Rata-rata suhu harian di sejumlah wilayah berkisar 37,0-38,6 derajat Celsius.
Daftar 10 Stasiun dengan Suhu Tertinggi
Berikut daftar lengkap berdasarkan data suhu maksimum harian pada 1 September pukul 07.00 WIB hingga 2 September pukul 07.00 WIB:
- Stamet Tebelian, Sintang, Kalimantan Barat: 38,6 derajat Celsius
- Stamet Nangapinoh, Kalimantan Barat: 37,6 derajat Celsius
- Stamet Pangsuma, Kalimantan Barat: 36,7 derajat Celsius
- Stageof Lampung Utara: 36,6 derajat Celsius
- Stamet Kalimarau, Kalimantan Timur: 36,3 derajat Celsius
- Stamet Kasiguncu, Sulawesi Tengah: 36,2 derajat Celsius
- Stamet Mutiara Sis-Al Jufri, Sulawesi Tengah: 36,1 derajat Celsius
- Taman Alat Digital Staklim Sumsel: 36,0 derajat Celsius
- Stamet Syamsudin Noor, Kalimantan Selatan: 35,9 derajat Celsius
- Stamet Tjilik Riwut, Kalimantan Tengah: 35,8 derajat Celsius
El Niño Sangat Kuat Jadi Pemicu
BMKG menjelaskan suhu tinggi terjadi di tengah kondisi atmosfer Indonesia yang relatif kering selama musim kemarau. Pemicu utamanya adalah El Niño yang masih berada dalam kategori sangat kuat.
Pemantauan suhu muka laut di wilayah Niño 3.4 menunjukkan anomali +2,74 derajat Celsius pada Dasarian III Agustus 2026. Rata-rata anomali sepanjang Agustus mencapai +2,83 derajat Celsius, sementara rata-rata tiga bulan Juni-Juli-Agustus sebesar +2,2 derajat Celsius.
Nilai tersebut berpotensi meningkat karena El Niño diprediksi bertahan hingga awal 2027.
2.526 Titik Panas di Kalimantan Tengah
Kombinasi atmosfer kering dan suhu udara tinggi meningkatkan potensi kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Pemantauan hotspot selama 10 hari terakhir menunjukkan titik panas dengan tingkat kepercayaan tinggi masih terkonsentrasi di sejumlah wilayah.
Kalimantan Tengah mencatat akumulasi tertinggi sebanyak 2.526 titik. Kalimantan Barat menyusul dengan 2.102 titik, Sumatera Selatan 1.180 titik, dan Papua Selatan 570 titik.
Citra Satelit Himawari-9 pada 10 September pukul 13.00 WIB menunjukkan asap tersebar di Sumatera Barat, Riau, Jambi, Sumatera Selatan, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, Kalimantan Timur, Papua Pegunungan, Papua Tengah, dan Papua Selatan.
Kebakaran di lahan gambut berlangsung lebih lama dan lebih sulit dipadamkan karena api menjalar hingga lapisan bawah permukaan tanah.
Hujan Lebat Tetap Terjadi di Tengah Kemarau
Meski musim kemarau mendominasi, BMKG mencatat hujan lebat hingga sangat lebat di beberapa wilayah pada 7-9 September. Curah hujan mencapai 141,6 mm per hari di Sumatera Utara, 114 mm per hari di Sumatera Barat, 108,5 mm per hari di Aceh, 67 mm per hari di Sulawesi Tengah, dan 65 mm per hari di Kalimantan Utara.
Hujan tersebut dipengaruhi kombinasi dinamika atmosfer seperti Madden Julian Oscillation (MJO), Gelombang Kelvin, Gelombang Rossby Ekuatorial, serta daerah belokan dan pertemuan angin. Suhu muka laut yang relatif hangat dan faktor lokal seperti topografi, pemanasan permukaan, serta interaksi angin darat-laut ikut mendukung pertumbuhan awan hujan.
BMKG mengingatkan kombinasi udara kering dan suhu tinggi berpotensi menurunkan kualitas udara serta meningkatkan risiko gangguan kesehatan. Pemantauan hotspot dan sebaran asap akan terus diperbarui seiring El Niño yang diprediksi bertahan hingga awal 2027.