KUALASIMPANG — Harga emas murni di Aceh Tamiang kini berada di level Rp 7,9 juta per mayam, turun dari posisi sebelumnya yang menyentuh Rp 8 juta per mayam. Penurunan juga terjadi pada emas dengan kadar 97 persen yang saat ini dijual Rp 7,8 juta per mayam, sementara emas perhiasan 22 karat turun menjadi Rp 1.850.000 per gram.
Pelayan Toko Emas Nusantara, Abdul Hafiz, menjelaskan bahwa fluktuasi harga emas di daerah sangat bergantung pada pergerakan harga emas dunia. “Emas mengikuti harga dunia, karena kemungkinan perang di Timur Tengah,” ujarnya kepada wartawan Serambi Indonesia, Rahmad Wiguna.
Kondisi geopolitik yang memanas kerap mendorong investor global beralih ke aset safe haven seperti dolar AS, sehingga menekan harga emas. Penurunan harga emas dunia ini langsung terasa di pasar lokal Aceh Tamiang yang selama ini mengacu pada harga internasional.
Meski harga terkoreksi cukup signifikan, aktivitas jual beli di sejumlah toko emas di Kualasimpang tidak mengalami penurunan drastis. Para pedagang menilai pergerakan harga emas masih berpotensi berubah dalam beberapa hari ke depan.
“Kami masih melayani pembelian dan penjualan seperti biasa. Mungkin ada yang menunggu harga lebih rendah untuk membeli, tapi yang jual juga tetap ada,” kata Abdul Hafiz.
Para pedagang di Aceh Tamiang memperkirakan harga emas masih akan bergerak dinamis seiring perkembangan situasi global. Jika konflik di Timur Tengah mereda, harga emas berpotensi kembali menguat. Sebaliknya, jika ketegangan meningkat, bukan tidak mungkin harga akan terus terkoreksi.
Bagi masyarakat yang berencana membeli emas, penurunan ini bisa menjadi momentum. Namun, para pedagang mengingatkan agar tetap waspada terhadap fluktuasi harga yang bisa terjadi sewaktu-waktu.