ACEH — Kami mendapat kesempatan hands-on singkat dengan Mercedes-Benz C-Class EV 2027 di Finlandia. Perlu ditegaskan, ini masih kesan awal—kami belum menguji di jalan rusak ala Indonesia atau melakukan pengukuran jarak tempuh riil. Tapi dari pengalaman berkendara pertama itu, sudah cukup jelas arah yang dituju Mercedes: menghilangkan keanehan mobil listrik generasi pertama mereka dan menggantinya dengan pengalaman sedan premium yang sudah kita kenal.
Mercedes belum mengumumkan harga resmi untuk pasar Indonesia. Sebagai gambaran, di pasar global C-Class EV diposisikan di atas CLA-Class EV yang lebih kecil dan lebih murah. Jika Anda butuh mobil listrik Mercedes dengan budget lebih hemat, CLA EV adalah alternatif yang masuk akal.
Kompetitor langsungnya jelas: BMW i4 xDrive40 dan Audi A6 e-tron. Keduanya sama-sama sedan listrik premium dengan tenaga dan jarak tempuh yang sebanding. Keputusan akhir akan sangat tergantung pada selera desain dan prioritas fitur Anda.
Jantung pacu C400 4Matic adalah dua motor listrik—satu di depan, satu di belakang—dengan total tenaga 482 hp. Semua varian yang kami bahas ini sudah standar all-wheel drive. Yang menarik, motor belakang bekerja penuh waktu, sementara motor depan hanya aktif saat dibutuhkan. Saat melaju konstan di jalan tol, motor depan otomatis terlepas untuk menghemat energi.
Mercedes mengklaim akselerasi 0-100 km/jam dalam 3,9 detik. Berdasarkan pengalaman kami, angka itu konservatif—kami memperkirakan tembus sekitar 3,8 detik. Ini lebih cepat dari BMW i4 xDrive40 dan Audi A6 e-tron. Tapi ada satu hal yang mengganggu: perilaku regenerative braking di mode Intelligent yang terasa tidak konsisten. Untungnya, ada paddle di belakang kemudi untuk mengatur level regen secara manual.
C-Class EV menggunakan arsitektur 800-volt baru dari Mercedes dengan paket baterai 94 kWh. Kapasitas DC fast charging mencapai 330 kW di stasiun 800-volt. Klaimnya, mobil ini bisa menambah jarak tempuh hingga 202 mil hanya dalam 10 menit pengisian. Kami memperkirakan angka EPA akan berada di kisaran 400 mil—angka yang sangat kompetitif di segmennya.
Kabar baiknya, semua C-Class EV dilengkapi konverter DC yang memungkinkan pengisian di Supercharger Tesla bertegangan 400-volt. Ini nilai plus besar untuk kemudahan perjalanan jarak jauh.
Seperti biasa, Mercedes tidak main-main soal material kabin. Joknya dibalut kulit Nappa, dengan pilihan trim serat alami atau kayu birch open-pore. Suasananya jelas premium. Namun, fokus utama ada di dashboard: layar 12,3 inci untuk instrumen, 17,7 inci untuk sentral, dan 12,3 inci untuk penumpang yang menyatu jadi satu bidang display raksasa. Buat Anda yang suka teknologi, ini surga.
Di kursi belakang, kami menemukan ruang kepala yang cukup lega berkat wheelbase yang lebih panjang. Namun, ruang kaki di bawah jok depan terbatas. Jika Anda sering membawa penumpang dewasa tinggi, ini perlu dipertimbangkan.
Atap kaca panoramik opsional memang terlihat mewah dengan 162 bintang LED kecil, tapi tidak sepenuhnya menghalau panas matahari. Di iklim tropis seperti Indonesia, ini bisa jadi masalah besar—siapkan biaya tambahan untuk pelapis atap setelah pembelian.
C-Class EV 2027 adalah langkah maju yang signifikan dibanding lini EQ awal. Rasanya lebih seperti mobil mewah biasa yang kebetulan bertenaga listrik—itu pujian tertinggi yang bisa kami berikan. Suspensi udara dan rear-wheel steering opsional membuat handling-nya lincah, dan kenyamanan berkendara di jalan Finlandia yang mulus terasa sangat baik.
Kelebihan:
Kekurangan:
Kesimpulan: Cocok untuk Anda yang menginginkan sedan listrik premium dengan performa tinggi dan teknologi mutakhir, serta tidak terlalu mementingkan ruang kaki belakang. Kurang cocok jika mobil ini sering dipakai membawa keluarga dengan penumpang tinggi di belakang.
Kami masih menunggu kesempatan untuk menguji mobil ini di jalan Indonesia yang lebih menantang. Pengujian suspensi dan pengukuran konsumsi energi riil akan menjadi penentu akhir kami.