Jakarta - Makanan Pendamping Air Susu Ibu atau MPASI menjadi tahap penting dalam tumbuh kembang bayi. Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) dan WHO merekomendasikan MPASI mulai diberikan tepat pada usia 6 bulan atau 180 hari, tidak lebih cepat maupun lebih lambat dari itu.
Kenapa harus tepat usia 6 bulan?
Memberikan MPASI sebelum bayi genap 6 bulan berisiko meningkatkan kemungkinan tersedak, diare, hingga gangguan pertumbuhan, karena sistem pencernaan bayi belum sepenuhnya siap mencerna makanan padat.
Menu MPASI pertama yang dianjurkan:
Tekstur dan porsi MPASI:
IDAI menyarankan tekstur puree atau bubur kental sebagai menu MPASI pertama. Porsi yang dianjurkan berkisar 2-3 sendok makan hingga setengah mangkuk berukuran 250 ml, diberikan sebanyak 2-3 kali sehari, disesuaikan dengan respons dan kemampuan makan bayi.
Hal yang perlu dihindari:
Jangan berikan kacang-kacangan dalam bentuk utuh sampai anak berusia 5 tahun, karena berisiko membuat bayi tersedak. Kacang-kacangan hanya boleh diberikan dalam bentuk yang sudah dihaluskan atau berupa selai yang dicampurkan ke dalam menu MPASI.
Perkenalkan satu jenis bahan makanan baru dalam beberapa hari sebelum mencampurnya dengan bahan lain, agar orang tua bisa memantau kemungkinan reaksi alergi pada bayi. Amati tanda-tanda seperti ruam kulit, muntah, atau diare setelah pemberian bahan makanan baru.
Tekstur MPASI perlu ditingkatkan secara bertahap seiring bertambahnya usia bayi, dari puree halus menuju tekstur yang lebih kasar, kemudian potongan kecil yang bisa dipegang sendiri oleh bayi saat mendekati usia 9-12 bulan. Konsultasikan dengan dokter anak apabila muncul kekhawatiran terkait pertumbuhan berat badan atau respons bayi terhadap MPASI yang diberikan.
Hindari menambahkan gula, garam, maupun penyedap rasa instan ke dalam menu MPASI bayi di bawah usia 1 tahun, karena ginjal bayi belum cukup matang untuk memproses natrium berlebih, sementara rasa manis dari gula bisa membentuk kebiasaan makan yang kurang sehat sejak dini.
Jadwal makan yang konsisten juga membantu bayi mengenali pola makan sejak awal. Susun jadwal MPASI berdampingan dengan jadwal menyusui, sehingga kebutuhan gizi bayi tetap tercukupi dari kedua sumber tersebut selama masa transisi menuju makanan keluarga.