BANDA ACEH — Lonjakan harga emas perhiasan di Banda Aceh terjadi dalam sehari. Para pedagang menyesuaikan harga jual mengikuti gejolak pasar logam mulia global yang bergerak cepat beberapa hari terakhir.
Harga baru Rp7.730.000 per mayam tersebut belum termasuk ongkos pembuatan. Untuk model sederhana, biaya pembuatan berkisar Rp200 ribu per mayam. Sementara desain dengan tingkat kerumitan lebih tinggi, biayanya bisa berbeda tergantung model dan tingkat kesulitan pengerjaan.
Kenaikan tidak hanya terjadi pada perhiasan. Emas batangan produksi PT Aneka Tambang Tbk (Antam) juga mencatatkan kenaikan Rp50 ribu menjadi Rp2.679.000 per gram, naik dari posisi sebelumnya yang berada di level Rp2.629.000 per gram.
Seorang pedagang emas di Banda Aceh menjelaskan, perubahan harga ini merupakan mekanisme pasar yang tidak bisa dihindari. "Perubahan harga emas memang mengikuti kondisi pasar. Saat harga emas naik, harga perhiasan juga ikut menyesuaikan," ujarnya.
Masyarakat yang berencana membeli perhiasan perlu menyiapkan dana lebih dari sekadar harga logamnya. Selisih biaya pembuatan menjadi komponen penting yang membuat total belanja membengkak.
Sebagai ilustrasi, untuk satu mayam perhiasan model sederhana, pembeli setidaknya harus menyiapkan dana sekitar Rp7,93 juta. Angka ini merupakan akumulasi dari harga emas Rp7.730.000 ditambah ongkos pembuatan Rp200 ribu.
Lonjakan harga ini menjadi perhatian bagi dua kelompok pembeli: mereka yang tengah merencanakan investasi logam mulia dan warga yang membeli perhiasan untuk kebutuhan tertentu seperti persiapan pernikahan.
Pergerakan harga yang fluktuatif dalam beberapa hari terakhir membuat sebagian pembeli memilih menunda pembelian. Sebagian lainnya justru memanfaatkan momen ini untuk menjual emas lama mereka dan mengambil keuntungan dari selisih harga.