ACEH — Setelah menjalankan 31 juta kali pengujian selama setahun terakhir, Bill Swearingen, seorang peneliti keamanan asal Kansas City, mengembangkan algoritma yang bisa menghasilkan pola untuk menutupi objek dari kamera pengintai. Pola yang dicetak pada pakaian atau benda ini diklaim mampu menghalangi kamera mendeteksi orang maupun kendaraan.
Pola tersebut tidak memblokir kamera untuk merekam video. Fungsinya justru mengacaukan kemampuan kamera dalam mengenali objek, wajah, atau orang sehingga sistem tidak memicu peringatan deteksi. Dengan begitu, orang yang memakai pola ini kembali menjadi "jarum di tumpukan jerami" bagi sistem pengawasan.
Swearingen menjelaskan bahwa proyek ini adalah cara bagi individu untuk "memilih keluar dari pelacakan" (opt-out of being tracked). "Privasi adalah hak fundamental," ujarnya kepada TechCrunch.
Pengembangan dimulai dengan mengalahkan algoritma deteksi video open-source satu per satu. Seiring waktu, sistem berevolusi menjadi model pembelajaran penguatan (reinforcement learning) yang bisa melatih dirinya sendiri menentukan pola mana yang efektif. Swearingen menyebut proses ini sebagai mengajari model "cara melukis" (how to paint).
Setiap kali pola gagal dan algoritma berhasil mendeteksinya, model akan mencoba lagi. Proses ini berulang hingga akhirnya pola mampu mengalahkan 11 algoritma deteksi open-source yang diuji, termasuk perangkat lunak yang dipakai pada pembaca plat nomor Flock, kamera tubuh Axon, dan kamera Clearview AI.
Kini model tersebut menghasilkan pola baru setiap menit dengan tingkat akurasi matematis yang terus meningkat. Pada Jumat lalu di Def Con, Swearingen melakukan uji coba publik pertamanya dengan mencetak pola pada sebuah kendaraan, dibantu oleh Donut Media.
Swearingen mengaku sebagai profesional keamanan siber yang sangat sadar akan risiko privasi dari pengawasan. Kota tempat tinggalnya, Kansas City, dipenuhi kamera pengintai yang jaraknya hanya beberapa kaki satu sama lain. Ia merasa tidak pernah memberikan persetujuan untuk diawasi, sama seperti saat pemerintah menggunakan SIM-nya untuk pengenalan wajah.
Tahun lalu, ia ingin menghadiri aksi protes namun merasa tidak nyaman karena khawatir kamera akan melacak orang-orang yang sedang menggunakan hak konstitusional mereka untuk berekspresi. Ia pun menyadari bahwa banyak orang lain mungkin merasakan hal yang sama, terutama mereka yang ingin menggunakan haknya tetapi merasa tidak aman.
Riset Swearingen juga membangun dari karya sebelumnya yang menunjukkan kemungkinan memblokir deteksi kamera. Berbagai proyek seni dan merek pakaian telah mencoba memperkenalkan produk yang bisa mengelabui pengenalan wajah, termasuk beberapa produsen kacamata, meski hasilnya tidak terlalu efektif.
Dalam beberapa tahun terakhir, kamera pengawas di AS dilengkapi kemampuan mendeteksi aktivitas dalam rekaman, mulai dari melacak plat nomor kendaraan yang melaju kencang hingga menggunakan pengenalan wajah untuk mengidentifikasi tersangka. Algoritma deteksi ini mampu menyaring ribuan jam rekaman untuk membantu penegak hukum menemukan aktivitas yang menarik perhatian.
Proyek noRecognition hadir sebagai alat perlawanan terhadap otomatisasi deteksi ini. Meski belum tersedia untuk publik secara luas, keberhasilan uji coba di Def Con menunjukkan bahwa teknologi semacam ini bisa menjadi alternatif bagi mereka yang ingin terhindar dari pengawasan algoritmik.