ACEH - Di tengah pesatnya pembangunan rumah modern, keberadaan Rumoh Aceh sebagai rumah adat tradisional semakin terancam. Banyak generasi muda yang lebih memilih membangun rumah dengan desain modern karena dianggap lebih praktis dan murah dibanding melestarikan struktur kayu tradisional yang butuh perawatan khusus.
Padahal, Rumoh Aceh menyimpan nilai arsitektur dan filosofi yang tidak tergantikan. Berikut tantangan pelestarian yang dihadapi serta upaya yang bisa digencarkan untuk menjaganya tetap ada.
Material kayu pilihan yang jadi bahan utama Rumoh Aceh membutuhkan perawatan berkala agar tidak lapuk dimakan usia atau rayap. Biaya perawatan ini kerap dianggap lebih mahal dibanding merawat rumah modern berbahan beton, sehingga banyak pemilik rumah adat memilih membongkarnya.
Teknik konstruksi Rumoh Aceh yang menggunakan sistem sambungan pasak tanpa paku besi membutuhkan keahlian khusus yang kini semakin langka. Tukang kayu yang menguasai teknik tradisional ini kebanyakan sudah berusia lanjut, sementara regenerasi ke tukang muda berjalan lambat.
Kebutuhan ruang yang lebih fleksibel dan efisien membuat sebagian masyarakat menganggap struktur tradisional Rumoh Aceh kurang praktis untuk kehidupan modern, terutama di wilayah perkotaan yang lahannya terbatas.
Sejumlah Rumoh Aceh yang masih tersisa kini dialihfungsikan jadi museum atau situs cagar budaya yang dikelola pemerintah daerah, sebagai upaya menjaga keberadaannya tetap bisa disaksikan generasi mendatang meski fungsi hunian aslinya sudah bergeser.
Beberapa komunitas budaya di Aceh mulai aktif mendokumentasikan teknik konstruksi tradisional lewat pelatihan dan workshop, sebagai upaya memastikan pengetahuan ini tidak hilang meski jumlah tukang kayu ahli terus berkurang.
Dukungan kebijakan daerah untuk insentif perawatan rumah adat, edukasi sejak dini di sekolah, serta promosi Rumoh Aceh sebagai destinasi wisata budaya bisa jadi langkah konkret menjaga keberlangsungan warisan arsitektur ini agar tidak sekadar jadi kenangan.